• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Investasi Nikel China tidak Menguntungkan Indonesia

by Redaksi Asiatoday
February 23, 2022
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Investasi Nikel China tidak Menguntungkan Indonesia

Ekonom Indonesia, Faisal Basri. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Investasi nikel China di Indonesia terus mendapat sorotan.

Pasalnya, investasi China tidak menguntungkan Indonesia.

Menurut Ekonom Faisal Basri, pemerintah seakan buta dengan sejumlah kerugian dalam investasi nikel, termasuk di dalamnya perekrutan para tenaga kerja asing asal China.

RelatedPosts

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Trois Films and South Korea’s JJan E&M Forge Strategic Partnership in Film Industry

Faisal menyebut Indonesia cuma dapat upah kuli dan biaya sewa lahan alakadarnya.

Faisal memandang, pemerintah gagal mewujudkan pembangunan pabrik baterai untuk mobil listrik.

Menurutnya, sampai sekarang Indonesia cuma mengolah jadi pellet, nickel pig iron, ferro nickel, dan besi baja setengah jadi.

“Hampir semua produk smelter nikel itu mereka ekspor ke negerinya sendiri. Penguasa tak mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) karena hampir seluruh produknya mereka ekspor. Tak juga membayar pajak ekspor,” jelas Faisal Basri, melalui akun blog pribadinya, Selasa (22/2/2022).

Dalam konteks pengolahan biji nikel, Faisal menyebut penguasa telah mengobral bijih nikel, menetapkan harga hanya sekitar seperempat dari harga di dalam negeri.

Atas kondisi tersebut, tak pelak lagi banyak pengusaha asing, khususnya China berbondong-bondong ke Indonesia.

“Kalau perlu pindahkan pabrik smelter nikel di negerinya. Bisa jadi mesin bekas yang dipindahkan itu diakui sebagai mesin baru, harganya digelembungkan agar seolah-olah nilai investasinya jumbo sehingga dapat fasilitas bebas pajak (tax holiday), memperoleh tax allowance, investment allowance, dan super deduction tax,” beber Faisal.

Terkait dengan tenaga kerja asing, Faisal menyebut sudah ratusan ribu pekerja yang didatangkan. Kebanyakan pekerja itu, menggunakan via kunjungan (visa turis), sehingga tak membayar pungutan US$100 per bulan per pekerja. Upahnya berkisar Rp15 juta sampai Rp50 juta.

“Tenaga ahli kah mereka? Kebanyakan bukan, kebanyakan lulusan SLTA atau lebih rendah. Ada sopir forklift, sopir alat berat, satpam, tenaga statistik, petugas asrama, dan banyak lagi,” ujarnya.

Faisal menilai sejauh ini tak ada gelagat dari pemerintah untuk melakukan audit atas fasilitas fiskal luar biasa yang mereka terima dan audit tenaga kerja yang ditengarai menyalahi aturan.

“Negara berpotensi mengalami kerugian ratusan triliun rupiah. Tak pernah terdengar suara dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Tenaga Kerja,” ungkapnya.

Faisal lebih jauh mengatakan, berulang kali penguasa mengumbar bahwa ekspor naik ratusan persen, tetapi devisanya terbang semua.

“Jadi, apa yang Penguasa banggakan? Bangga jadi pendukung industrialisasi di China?” imbuhnya.

Faisal juga menyoroti langkah perusahaan asing yang mulai menguasai tambang nikel. Para pengusaha itu kata dia, mulai mengurangi pembelian bijih nikel dari penambang nasional.

“Selain berasal dari tambang sendiri, pengadaan bijih nikel mereka juga didukung oleh BUMN tambang yang telah menandatangani kontrak penjualan jutaan bijih nikel dengan mereka (pemilik smelter nikel),” urainya.

“Penguasa tampaknya tutup mata atau “melindungi” praktik eksploitasi sumber daya alam oleh mereka yang merusak lingkungan,” tandas Faisal Basri. (ATN)

Tags: Faisal BasriHilirisasi NikelKerjasama Indonesia-ChinaNikel
No Result
View All Result

Terbaru

  • BRICS Pushes for New Global Order: India, Russia and China Deepen Strategic Coordination
  • IsDB Unites 78 Nations Through $6 Billion in Agreements
  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.