ASIATODAY.ID, JAKARTA – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memandang, Indonesia saat ini mengalami dilema dalam investasi asing. Di satu sisi, investasi asing dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun pada sisi lain, jika tidak berhati-hati, investasi asing yang masuk berpotensi membunuh industri dalam negeri.
“Tentu kita butuh investasi dari luar, tetapi investasi dari luar itu kalau kita tidak dikelola dengan hati-hati, bisa membunuh industri dalam negeri juga,” terangnya, Rabu (14/8/2019).
Wapres mencontohkan kasus pada industri semen. Dimana produsen semen domestik harus bersaing dengan produsen semen asal China. Sebab, mereka dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif, meskipun pangsa pasarnya masih kecil di Indonesia.
Menurut dia, harga semen China lebih kompetitif karena harga pokok produksinya hanya Rp30 ribu per sak. Sedangkan harga pokok produksi dalam negeri mencapai Rp40 ribu per sak.
“Sehingga terjadi penurunan harga di samping over supply (kelebihan pasokan), maka pabrik-pabrik semen akan bersaing dengan hal-hal tersebut,” imbuhnya.
Tak hanya industri semen, Wapres mengatakan industri baja domestik mengalami kondisi serupa. Produsen baja domestik, seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk kalah bersaing dengan produsen baja China karena kurang efisien. Walhasil, produsen baja dalam negeri tertinggal dari sisi teknologi.
Namun demikian, Indonesia tidak bisa menutup diri dari persaingan pasar tersebut lantaran sudah terikat dengan perjanjian dagang bebas dengan beberapa negara. (AT Network)
,’;\;\’\’
