ASIATODAY.ID, PEKANBARU – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pekanbaru, Riau tidak hanya menjadi mimpi buruk bagi penduduk setempat, namun kebakaran itu juga jadi malapetaka bagi habitat dan kelangsungan hidup spesies flora dan fauna.
Seekor induk Ular Piton bahkan ditemukan mati dalam kondisi menyedihkan. Satwa ini mati terbakar dengan posisi sedang melindungi 20 butir telurnya.
“Ular Piton sepanjang 4,5 meter itu ditemukan dalam keadaan mati terpanggang oleh Tim Gabungan terdiri dari Polri, TNI, dan BPBD Kota Pekanbaru bersama dengan 20 butir telurnya, saat sedang berjuang memadamkan api Karhutla sejak Senin pagi,” ujar Sunarto melalui keterangannya, yang diterima Kamis (5/3/2020).
Menurut Sunarto, kebakaran ini tidak hanya merugikan manusia, tapi juga mahluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Hampir, setengah hektar hutan terbakar di sekitar lokasi Ular Piton itu.
“Karhutla menjadi bencana ekologis, hilangnya binatang-binatang, tanaman-tanaman khas suatu daerah, terutama di Riau,” jelas Sunarto.
Sunarto menjelaskan, sejauh ini upaya pemadaman madih terus dilakukan jajaran Kepolisian, TNI, dan stakeholder lainnya.
“Petugas Gabungan Polri, TNI, Manggala Agni, BPBD, Perusahaan, dan Relawan Pemadam Karhutla seminggu terakhir masih berjibaku di lapangan untuk padamkan api di beberapa titik di Riau seperti di Rangsang, Kepulauan Meranti dan Rupat, Bengkalis,” urai Sunarto.
“Pada saat siang hari, semua titik api telah kita padamkan dan tangani bahkan sempat hilang dari pantauan satelit, namun tiba-tiba menjadi bertambah dan meluas di malam hari. Padahal seharusnya dengan kondisi suhu rendah, kecil kemungkinan titik api makin meluas. Hal ini perlu menjadi fokus dan penanganan secara bersama para stakeholder terkait,” imbuhnya.
Komandan Regu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekanbaru F Zabua mengatakan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai setengah hektare. Belum dipastikan penyebab kebakaran lahan ini dan hingga kini masih dalam penyelidikan. (ATN)
,’;\;\’\’
