ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Menteri Perdagangan Republik Indonesia Agus Suparmanto menjelaskan, hasil pertemuannya dengan Kantor Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (United State Trade Representative/USTR) terkait fasilitas keringanan bea masuk atau Generalized System of Preferences (GSP) akan segera dirampungkan bulan depan.
“Progresnya sangat signifikan dan bulan depan GSP semoga sudah rampung,” katanya di Washington, AS sebagaimana keterangan tertulis Jumat (14/2/2020).

Mendag berharap, rampungnya negosiasi soal GSP sebelum kedatangan Presiden Jokowi ke Las Vegas untuk menghadiri Association of Southeast Asian Nation-US (ASEAN-US) Summit pada pertengahan Maret 2020.
Agus menjelaskan dalam pertemuan yang digelar Kamis pagi tersebut, USTR telah sepakat soal sejumlah hal yang sebelumnya dirundingkan, di antaranya terkait dengan asuransi yang telah rampung urusannya dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga regulasi impor produk hortikultura yang baru, setelah AS memenangkan gugatan terhadap RI di Badan Penyelesaian Sengketa dan Badan Banding WTO.
“Yang dari OJK sudah selesai, kemudian soal hortikultura juga sudah, tinggal implementasinya saja yang harus dipercepat dengan kondisi tertentu yang sebelumnya agak sulit. Ini kita akan lebih permudah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Agus mengatakan pekan depan akan juga dimulai dibahas soal GSP terkait kekayaan intelektual (intellectual property rights). Ia meyakini, GSP akan dapat meningkatkan hubungan antara Indonesia dan Amerika. Pasalnya, kebijakan tersebut saling menguntungkan karena Indonesia bisa menggenjot ekspor ke AS, sementara AS juga bisa mendapatkan barang berkualitas dari Tanah Air.
“Sebenarnya kita surplus dari Amerika dalam neraca dagang, ini membantu kita mengekspor ke Amerika seperti bahan furnitur tapi juga mendorong impor dari Amerika misalnya untuk produk kedelai,” tandasnya.
Pada 2018, nilai ekspor Indonesia dari pos tarif yang mendapatkan fasilitas GSP naik 10 persen dari USD1,9 miliar menjadi USD2,2 miliar. Sementara pada periode Januari-November 2019, nilai ekspor dengan fasilitas GSP naik sebesar 20 persen dari USD2 miliar menjadi USD2,5 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Indonesia bisa mendapatkan kembali fasilitas tarif preferensial yang dapat terus mendorong ekspor Indonesia. GSP sebenarnya juga bermanfaat bagi industri AS karena dapat memperoleh produk yang berkualitas dengan harga yang kompetitif,” tambahnya.
Agus optimistis perundingan terkait GSP akan segera selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan. Hal ini mengingat fasilitas GSP juga memberikan keuntungan bagi AS sebagai importir yang akan mendapatkan barang berkualitas dengan harga lebih murah dan mewujudkan target peningkatan perdagangan Indonesia dan AS sebanyak USD60 miliar pada lima tahun ke depan.
“Indonesia memandang perdagangan harus adil dan seimbang. Hal itu dapat dicapai dengan mengintensifkan kolaborasi dan menawarkan berbagai macam produk barang dan jasa dengan harga tentu yang kompetitif,” ujarnya.
Total perdagangan Indonesia-AS pada 2019 tercatat mencapai USD26,97 miliar atau menurun 5,73 persen dari tahun sebelumnya yang senilai USD28,6 miliar, dengan ekspor Indonesia pada 2019 tercatat sebesar USD17,72 miliar dan impor USD9,25 miliar. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar USD8,46 miliar.
Ekspor utama Indonesia ke AS pada 2019, di antaranya udang-udangan (krustasea) segar, karet alam, alas kaki, jerseys, pakaian wanita dan anak perempuan, serta ban pneumatik baru. Sementara produk impor utama Indonesia dari AS pada 2019 yaitu biji kedelai, kapas, gandum dan meslin, residu tepung pati, dan tepung bukan konsumsi.
Sedangkan total nilai investasi AS di Indonesia pada 2019 tercatat sebesar USD989,3 juta yang terdiri dari 788 proyek yang didominasi sektor pertambangan (78 persen). Sektor lainnya yaitu industri listrik, gas dan air, industri jasa, dan lainnya. (AT Network)
,’;\;\’\’
