• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 24, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Klaim China Fiktif, Indonesia Tidak akan Pernah Akui 9 Garis Putus di LCS

by Redaksi Asiatoday
June 12, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Jokowi: Natuna adalah Tanah Air Indonesia

Presiden Jokowi saat berkunjung ke Natuna. Foto : setkab

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menegaskan Indonesia tidak akan pernah mengakui sembilan garis putus (9 dash line) klaim China di Laut China Selatan (LCS).

Pasalnya, klaim itu fiktif dan ilegal. Retno mengatakan posisi Indonesia ini konsisten sejak awal dan tidak akan pernah berubah.

“Inti dari posisi Indonesia, kita tidak akan mengakui klaim 9 dash line (sembilan garis putus) China karena klaim tersebut ilegal dan fiktif karena tidak berdasar pada hukum internasional yang berlaku,” tegas Retno dalam webinar yang diselenggarakan Bidang Media dan Penggalangan Opini Partai Golkar, Jumat (12/6/2020).

RelatedPosts

Indonesia’s Film Industry Trapped as a Foreign Content Market Amid Korean and Chinese Drama Surge

ADB Bets on Vanuatu’s Future with $10 Million Lifeline for Economic Transformation

World Bank Warns: $54 Billion in Natural Gas Burned as Global Energy Crisis Deepens

Menurut Retno, Indonesia bahkan sudah mendaftar ulang posisi terhadap klaim China tersebut ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 26 Mei lalu.

Menurut Retno, klaim Beijing itu tidak memiliki dasar karena tidak sesuai UNCLOS 1982.

“Indonesia secara konsisten meminta penghormatan penuh UNCLOS dan karena itu Indonesia tidak terima klaim yang dibuat di luar hukum internasional termasuk UNCLOS 1982,” tegasnya.

Dalam berbagai kesempatan, Indonesia juga terus menyampaikan bahwa Laut China Selatan harus menjadi laut yang damai dan stabil. Pasalnya, beberapa tahun terakhir, Laut China Selatan selalu digunakan untuk menjadi adu kekuatan antara dua negara besar, yakni Amerika Serikat dan China.

“Indonesia tidak ingin Laut China Selatan menjadi tempat power projection dua kekuatan besar yang pasti akan merugikan kita semua, terutama negara di kawasan,” tegasnya.

Sudah lebih dari satu dekade China memperebutkan wilayah di Laut China Selatan dengan beberapa negara di ASEAN. Beijing menetapkan sembilan garis putus yang mengindikasikan wilayah mereka.

Garis putus tersebut ‘mencaplok’ wilayah perairan Malaysia, Vietnam, Filipina, dan juga Taiwan. China memutuskan garis putus itu berdasarkan penghitungan tradisional mereka yang tidak sesuai dengan hukum internasional. (ATN)

Tags: Laut China SelatanLaut IndonesiaMenlu Retno MarsudiNatunaZEE Natuna UtaraZEEI
No Result
View All Result

Terbaru

  • Cambodia Secures $63 Million ADB-Backed Battery Project to Accelerate Clean Energy Transition
  • UN Chief Warns of “Twin Crises” as Climate and Energy Shocks Converge
  • Firmed Solar Undercuts Most of Asia’s Planned Gas, and EVs Can Save Over $300 Billion a Year in Oil Imports
  • Indonesia Seeks Alliance of Island Nations to Push Climate Mobility Agenda Ahead of COP31
  • Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.