• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Konsumsi Baja Indonesia Paling Rendah di ASIA

by Redaksi Asiatoday
November 19, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Konsumsi Baja Indonesia Paling Rendah di ASIA

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iswandi Imran mengemukakan konsumsi baja Indonesia paling rendah di kawasan Asia. Pasalnya, konsumsi baja di Indonesia hanya sebesar 52 kilo gram per kapita.

“Sebagai pembanding Filipina 94 kg, Thailand 239 kg, Malaysia 299 kg, Singapura 488 kg, dan Korsel 1,1 ton per kapita,” papar Iswandi Imran, dalam sambutan temu pelanggan PT Krakatau Posco, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Menurut Iswandi, konstruksi baja di Indonesia relatif belum sepopuler konstruksi beton. Padahal, banyak keuntungan yang dapat diperoleh biIa menggunakan bahan baja sebagai bahan konstruksi.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

“Kalaupun baja dipakai untuk konstruksi lebih banyak untuk hal-hal yang memang sudah tidak bisa ditangani lagi dengan material lain,” tuturnya.

Ia menambahkan pemakaian baja untuk konstruksi juga masih dianggap mahal, sehingga baja di Indonesia hanya diaplikasikan pada hal tertentu.

Menurutnya sebagai perencana konstruksi sebaiknya memerhatikan juga material yang ada di lokal. Kalau tidak memerhatikan hal itu maka ujungnya juga harus impor untuk mendapatkan material sesuai desain.

“Sehingga bisa jadi lebih mahal,” ungkapnya.

Karena itu lanjut dia, perencana konstruksi harus aktif mencari informasi segala material yang tersedia di dalam negeri, sementara produsen baja juga harus aktif melakukan pemasaran.

“Salah satunya keuntungan menggunakan baja adalah kecepatan waktu konstruksi. Selain itu, beban ke fondasi lebih ringan sehingga bisa dipakai untuk jangka panjang,” imbuhnya.

Kendati demikian, Iswandi Imran mengatakan, industri baja di Indonesia masih menjanjikan pertumbuhan. Hal itu terlihat dari program pemerintah yang tetap fokus pada pembangunan infrastruktur. Apalagi program pemerintah yang tetap fokus pada pembangunan infrastruktur merupakan peluang untuk memperluas penerapan konstruksi baja di Indonesia.

“Misal, rencana pembangunan jalan tol sepanjang 2.500 km untuk lima tahun ke depan, yang sebagiannya dalam bentuk struktur elevated,” pungkasnya. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Baja IndonesiaImpor BajaIndustri Baja
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.