• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

KRISIS EKOLOGI: Indonesia Butuh Waktu 60 Tahun Merehabilitasi 14 Juta Hektare Lahan Kritis

by Redaksi Asiatoday
September 26, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Jutaan Hektare Lahan Perkebunan Sawit di Indonesia Bermasalah

Hutan Lindung dibabat untuk perkebunan Kelapa Sawit. Foto : Greenpeace

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Degradasi hutan di Indonesia kini menjadi masalah serius bagi keseimbangan ekologi. Pasalnya, butuh waktu lama untuk mengembalikan lahan-lahan yang sudah kritis yang mencapai 14 juta hektare.

“Dibutuhkan waktu selama 60 tahun untuk memulihkan kembali lahan kritis di Indonesia. Karena itu kesadaran dan peran penting masyarakat sangat diharapkan dalam menangani masalah ini,” kata Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Handoyo, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (25/9/2020).

Dalam webinar yang digelar Pusat Kajian Silvikultur Intensif Hutan Tropis Indonesia memperingati dies ke-57 Fakultas Kehutanan UGM, Handoyo mengakui menghadapi 14 juta hektare lahan kritis bukan persoalan mudah.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Menurut dia, dengan mendapat dukungan APBN dan APBD serta swasta, kemampuan pemulihan lahan kritis paling hanya mampu mencapai 232.250 hektare per tahun.

Handoyo menerangkan, lahan kritis terjadi akibat degradasi hutan berupa pengurangan status lahan secara fisik, kimia dan atau biologi sehingga menurunkan kapasitas produksi.

Fenomena itu terjadi karena ada beberapa sebab diantaranya berkurangnya lahan basah, perluasan lahan pertanian subsisten, perluasan lahan industri tidak ramah lingkungan, dan dinamika penggunaan lahan.

“Lahan kritis atau terdegradasi ini menjadikan lahan kurang berfungsi dengan baik untuk ditanami,” jelasnya.

Handoyo mengatakan, berkurangnya lahan basah seperti mangorove yang memiliki luas 3,4 juta hektare, sebanyak 1,8 juta hektare dalam kondisi kritis dan 1,6 kondisi baik. Sementara itu, kemampuan rehabilitasi lahan mangorove itu hanya 1.000 hektare per tahun, belum termasuk lahan basah yang gambut.

Demikian pula kondisi perluasan lahan pertanian subsisten yang mengakibatkan lahan pertanian meningkat 18,7 persen dan menurunnya bahan organik tanah serta 80 persen lahan pertanian mengalami erosi.

Perluasan produksi minyak sawit, kayu lapis serta industri pulp-kertas, menurut dia juga turut menyumbang terjadinya degradasi lahan.

“Belum lagi adanya dinamika penggunaan lahan berupa perubahan fungsi lahan prima menjadi lahan kritis dan lahan rusak,” jelasnya.

Dikatakan, akibat degradasi lahan tersebut berbagai isu harus dihadapi di antaranya musim kemarau panjang atau kekeringan, minimnya peresapan air ke dalam tanah dan kekurangan sumber daya air.

Berbagai upaya yang saat ini sedang dilakukan mulai dari pembuatan hujan buatan, pembuatan sumur resapan, menghidupkan mata air dengan kegiatan penanaman di sekitar sumber mata air dan lainnya.

“Rencana aksi nasional berupa pengurangan degradasi lahan guna mendukung ketahanan pangan telah dilakukan dengan mendorong peningkatan kesadaran dan pendidikan terutama untuk kalangan generasi muda. Nanti kita akan evaluasi sejauhmana efektivitasnya,” imbuhnya. (ATN)

Tags: Degradasi HutanKonservasi AlamKonservasi HutanKrisis EkologiPenghijauanPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.