• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Krisis Iklim, 68 Persen Gletser di Bumi akan Mencair pada 2100

by Redaksi Asiatoday
January 7, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
UNESCO: Sejumlah Gletser Ikonik Warisan Dunia akan Menghilang di 2050

View from thin air at the top of Mount Kilimanjaro. Doc UN

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para ilmuwan makin khawatir dengan kondisi planet Bumi setelah mereka melihat hasil penelitian terbaru.

Pasalnya, gletser dunia makin menyusut dan menghilang lebih cepat dari yang awal diperkirakan. Sekitar dua pertiga atau 68 persen dari gletser bumi diproyeksikan akan mencair pada 2100. Penyebabnya: perubahan iklim dan pemanasan global.

Gletser atau glasier adalah bongkahan es berukuran raksasa yang terbentuk di atas permukaan tanah. Gletser terbentuk dari akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu sangat lama. Bongkahan es tersebut menutup sekitar 10% daratan di bumi.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Gletser juga tidak hanya ada di kutub, tapi juga daerah pegunungan tinggi di berbagai wilayah di dunia (kecuali Australia).

Para ilmuwan menilai, jika dunia dapat membatasi pemanasan global sesuai kesepakatan internasional maka kurang dari 50 persen gletser dunia akan menghilang pada 2100. Sayangnya, kemungkinan itu terjadi sangat kecil. Bahkan, ada skenario terburuk ketika pemanasan global tak terkontrol dan naik beberapa derajat, maka 83% gletser dunia kemungkinan besar akan hilang pada 2100.

Riset tersebut dilandaskan pada analisis dari 215.000 gletser yang ada di darat. Tidak termasuk lapisan es di Greenland dan Antartika. Para ilmuwan menggunakan simulasi komputer untuk menghitung dengan tingkat pemanasan yang berbeda-beda, berapa banyak gletser yang akan hilang. Berapa triliunan ton es yang akan mencair, dan berapa banyak kontribusinya terhadap kenaikan permukaan laut.

Hasilnya, suhu bumi diketahui akan meningkat sebesar 2,7 derajat Celcius. Yang artinya, pada 2100 nanti—jika kenaikannya tetap sama—akan kehilangan 32 persen massa gletser dunia, atau 48,5 triliun metrik ton es serta 68 persen dari gletser menghilang.

Dampaknya, permukaan laut akan naik sebesar 4,5 inci (115 milimeter). Maka, lautan akan menjadi semakin meluas akibat lapisan es yang mencair dan air yang lebih hangat.

“Apa pun skenarionya, kita akan kehilangan banyak gletser,” kata David Rounce, ahli glasiologi dan profesor teknik di Universitas Carnegie Mellon.

“Tapi kita memiliki opsi untuk membuat perbedaan dengan membatasi berapa banyak gletser yang akan hilang,” tambahnya.

Dampak kenaikan permukaan laut setinggi 4,5 inci akibat gletser ternyata sangat masif. Sebab, akan berpengaruh pada lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia, termasuk 100.000 orang di Amerika Serikat.

“Mereka akan hidup di bawah garis air pasang,” ujar Ben Strauss, CEO Climate Central.

“Kenaikan permukaan laut dari perubahan iklim membuat Superstorm Sandy pada 2012 menimbulkan kerugian USD 8 miliar,” tambahnya.

Dampak menyusutnya gletser lebih dari sekadar naiknya air laut. Namun juga menyusutnya pasokan air untuk sebagian besar populasi dunia, meningkatnya risiko banjir, dan hilangnya tempat bersejarah yang tertutup es dari Alaska hingga Pegunungan Alpen bahkan di dekat base camp Gunung Everest.

“Untuk tempat-tempat seperti Pegunungan Alpen atau Islandia, gletser membuat lanskap ini begitu istimewa,” kata Direktur Pusat Data Salju dan Es Nasional Mark Serreze.

“Saat mereka kehilangan es, artinya mereka juga kehilangan jiwa mereka,”tambahnya. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

 

Tags: Gletser DuniaGlobal WarmingKrisis IklimSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.