ASIATODAY.ID, KUALA LUMPUR – Situasi politik di Malaysia kini tengah memanas.
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengungkapkan walaupun pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim, menjadi perdana menteri, Negeri Jiran akan tetap berada dalam kebuntuan politik.
Anwar Ibrahim mengklaim dia memiliki mayoritas dukungan di parlemen untuk merebut jabatan perdana menteri.
“Jadi situasinya sangat tidak pasti. Bagaimanapun juga, akan ada situasi di mana tidak ada pemerintah di negara itu,” kata Mahathir kepada Reuters, yang dikutip Jumat (16/10/2020).
Anwar bertemu Raja Malaysia Sultan Abdullah Shah pada Selasa pekan ini dalam upaya membuktikan dia memiliki dukungan mayoritas di parlemen untuk membentuk pemerintahan dan mengambil alih posisi perdana menteri dari Muhyiddin Yassin.
Mahathir, yang membimbing Anwar mengatakan dengan kepemimpinan baru, Malaysia akan tetap rentan terhadap perubahan aliansi politik. Terutama, oleh bekasi partai berkuasa Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO).
Mahathir dengan dukungan Anwar, mengarahkan oposisi ke kemenangan bersejarah dalam pemilu 2018. Kemenangan ini mengakhiri enam dekade pemerintahan UMNO dengan kampanye melawan korupsi.
Ia menjanjikan Anwar posisi perdana menteri usai dua tahun menjabat. Namun, pemerintahannya runtuh awal tahun ini.
Mahathir tiba-tiba mengundurkan diri dan diangkat menjadi perdana menteri sementara oleh raja, sampai perdana menteri yang baru ditunjuk.
Mundurnya Mahathir membuka jalan bagi Muhyiddin Yassin mengambil posisi pada Maret lalu. Ia dipilih raja yang telah berdiskusi dengan semua anggota parlemen, dan juga didukung UMNO.
Otomatis, impian Anwar menjadi perdana menteri usai pemerintahan Mahathir kandas. Kini ia berusaha untuk merebut posisi itu.
Mahathir mengatakan ia tidak mendukung Anwar atau Muhyiddin. Politisi 94 tahun itu mengajukan mosi tidak percaya pada kepemimpinan Muhyiddin hari ini, bersama dengan lima anggota parlemen federal lain dari partai Pejuang.
“Ini adalah hal yang paling disukai Anwar. Sudah tiga kali dia mengklaim mendapat dukungan bahwa dia akan menjadi perdana menteri, hanya untuk menemukan bahwa dia sebenarnya tidak memiliki dukungan,” ujar Mahathir.
Kantor Anwar Ibrahim tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait pernyataan Mahathir tersebut. (ATN)
