ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia secara perlahan menjadi negara yang memiliki daya tarik bagi investasi global.
Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, ada tiga alasan yang membuat Indonesia layak menjadi negara tujuan investasi.
Pertama, Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang kuat. Setelah di 2020 mengalami kontraksi ekonomi 2,07% akibat pandemi Covid-19, di 2021 ini diperkirakan akan tumbuh positif antara 3,5% hingga 4,3%.
“Ekonomi Indonesia akan meningkat 4,6% hingga 5,4% tahun depan didukung oleh kinerja ekspor dan investasi yang kuat, serta berlanjutnya kebijakan stimulus fiskal dan moneter,” jelas Perry Warjiyo di Indonesia – China Business Forum 2021 yang digelar secara virtual, Selasa (19/10/2021).
“Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan reformasi struktural untuk mendukung dan mendorong ekonomi serta pertumbuhan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Perry menegaskan, penciptaan lapangan kerja yang berkualitas juga menjadi komitmen pemerintah. Upaya ini dilakukan salah satunya dengan menyederhanakan proses perizinan usaha.
“Indonesia juga telah membentuk Indonesia Investment Authority (INA),” imbuhnya.
Kedua, Indonesia terus membangun infrastruktur untuk mendukung kegiatan investasi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Pembangunan infrastruktur yang masif ini juga sejalan dengan meningkatnya berbagai sektor ekonomi mulai dari pertanian, manufaktur, hingga komunikasi.
Ketiga, digitalisasi ekonomi dan keuangan di Indonesia yang tumbuh pesat.
“Saat ini, belanja online sudah menjadi pilihan banyak masyarakat, dan juga penggunaan pembayaran secara digital,” paparnya.
Transaksi e-commerce, perbankan digital, dan uang elektronik diprediksi akan terus meningkat di tahun ini dengan peningkatan terbesar pada transaksi e-commerce, yakni sebesar 48,4% (YoY).
Sementara itu, uang elektronik dan perbankan digital diproyeksikan masing-masing akan mengalami peningkatan sebesar 35,7% (YoY) dan 30,1% (YoY).
Pada kesempatan itu, Perry juga menyinggung implementasi kerja sama penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) antara Indonesia dan China.
Kerja sama tersebut meliputi penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung (direct quotation) dan relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valuta asing antara mata uang rupiah dan yuan.
Perry mengungkapkan, implementasi kerja sama ini merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia untuk mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung dengan berbagai negara mitra.
“Juga mendukung kemampuan Bank Indonesia mengelola stabilitas nilai rupiah melalui penguatan pasar valas di dalam negeri yang selama ini masih sangat didominasi mata uang kuat,” tandasnya.
Destinasi Investor Eropa
Indonesia dipandang sebagai salah satu negara di Asia yang paling strategis untuk menjadi destinasi bagi investor Eropa.
Posisi unggul Indonesia dalam konteks dinamika geo-politik, juga mampu memperkuat kemitraan strategis dengan kekuatan utama di Kawasan, khususnya China dan Amerika Serikat (AS).
Keunggulan Indonesia sebagai destinasi investasi asing juga ditunjang dengan mulai terwujudnya “abad Asia/Asian Century” yang jadikan kawasan Asia, khususnya Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global, termasuk paska kesepakatan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Secara ekonomi, Asia berkontribusi lebih dari 50 persen pertumbuhan GDP dunia dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dalam kelompok negara G-20.
“ASEAN dan RCEP menjadikan kawasan ini semakin terintegrasi secara ekonomi”, ujar Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Mahendra Siregar dalam forum seminar Indonesia “Open for Business” yang bertema “Invest in Indonesia : Opportunities in Asia’s Economic Powerhouse” pada tanggal 25 Februari 2021.
Seminar ini membuka rangkaian kegiatan yang lebih fokus ke sektor prioritas sepanjang tahun 2021 yang diselenggarakan Ditjen Amerika dan Eropa Bersama-sama dengan BKPM dan kementerian terkait serta Perwakilan RI di Kawasan Eropa.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan rebound di tahun 2021 menjadi di atas 5 persen. Hal ini akan meningkat di tahun berikutnya akibat sentiment positif paska reformasi melalui penerbitan Omnibus Law dan 51 aturan pelaksanaannya.
“Pertumbuhan ekonomi ini didukung pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah dan ekspor”, ujar Airlangga.
Berdasarkan indikator ekonomi ekonomi terakhir, terjadi perbaikan kegiatan industri, perbaikan indeks kepercayaan konsumen, peningkatan kredit usaha rakyat (KUR) yang diharapkan berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam sektor ekonomi digital, terjadi pertumbuhan transaksi/pembiayaan melalui fintech dan peningkatan realisasi investasi sebagai respon positif atas kebijakan pemerintah.
Dari diskusi sesi ini, tercatat beberapa perusahaan Eropa, seperti Siemen ternyata telah berada di Indonesia lebih dari 100 tahun dan masih memiliki komitmen untuk pengembangan bisnisnya di Indonesia.
Sebagai perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia targetkan menggandakan presentase investasi dari Eropa yang saat ini hanya 10 persen dari total investasi ke ASEAN.
“Salah satu strateginya adalah secara langsung targetkan sektor potensial, strategi marketing dan pendampingan,” ujar Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Ngurah Swajaya.
“Pemerintah menyadari hal ini. Oleh karena itu, Kemlu bersama BKPM mengambil inisiatif untuk menggandeng seluruh pemangku kepentingan untuk secara sistematis targetkan sektor potensial yang akan dilakukan sepanjang tahun 2021 didukung perwakilan RI di Eropa, sekalian memanfaatkan momentum positif yang terbangun sejak disahkannya UU Omnibus dan 49 aturan pelaksanaannya,” tambah Ngurah Swajaya.
Enam sektor prioritas yang disasar dan berpotensi untuk meningkatkan investasi ke Indonesia yaitu bahan kimia, e-commerce, elektronik, farmasi, infrastruktur, makanan dan minuman serta garmen. (ATN)
