ASIATODAY.ID, NAYPYIDAW – Junta militer Myanmar telah menangkap mantan duta besar Inggris Vicky Bowman dan suaminya.
Juru bicara pemerintah Myanmar mengatakan pasangan itu didakwa melanggar undang-undang imigrasi.
Bowman menjabat sebagai duta besar Inggris dari tahun 2002 hingga 2006 dan sekarang menjadi direktur Myanmar Center for Responsible Business. Suaminya, Htein Lin, adalah seorang seniman terkemuka dan mantan tahanan politik.
Pasangan itu ditangkap di kediaman mereka di Yangon dan telah dikirim ke penjara Insein yang terkenal kejam, menurut laporan setempat.
Satu pernyataan singkat dari juru bicara urusan luar negeri di London mengatakan pihak berwenang “khawatir dengan penangkapan seorang wanita Inggris” dan memberikan bantuan konsuler.
Penangkapan itu kemungkinan akan memperdalam isolasi junta militer Myanmar, yang dikenal sebagai Tatmadaw, yang merebut kekuasaan dalam kudeta tahun lalu.
Militer telah menindak perbedaan pendapat, menangkap ribuan pengunjuk rasa dan tokoh politik, termasuk pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi.
Human Rights Watch menyerukan pembebasan pasangan itu, dengan mengatakan penangkapan itu “keterlaluan dan tidak dapat diterima.”
“Sekali lagi, Tatmadaw menunjukkan mengapa mereka termasuk di antara pelanggar hak terburuk di Asia Tenggara,” cuit wakil direktur Asia Phil Robertson seperti dilaporkan WashingtonPost, Kamis (25/8/2022),
Pada Kamis, Inggris memberlakukan sanksi pada bisnis yang terkait dengan militer, meskipun pengumuman itu tampaknya tidak terkait dengan penangkapan.
Inggris juga mendukung kasus genosida terhadap Myanmar di Mahkamah Internasional atas perlakuannya terhadap Muslim Rohingya, dan telah menyatakan dukungan untuk Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar, satu pemerintahan bayangan yang beroperasi di pengasingan.
Inggris termasuk di antara banyak negara yang mengutuk eksekusi aktivis pro-demokrasi oleh junta baru-baru ini.
Diplomat utamanya di negara itu, Pete Vowles, mengatakan bulan lalu “dipaksa oleh junta untuk pergi.
“Tetapi senang, kami tidak menyerah pada tekanan untuk melegitimasi kudeta brutal mereka,” katanya. (ATN)
