ASIATODAY.ID, JAKARTA – Lembaga pemeringkat internasional Moody’s memandang perekonomian Indonesia mendapatkan tantangan yang serius akibat pandemi coronavirus (Covid-19), terutama dari sisi fiskal dan neraca eksternal.
Menurut Moody’s Vice President and Senior Analyst Anushka Shah, kondisi itu dapat menyebabkan terjadinya perlambatan ekonomi sejak krisis 1997-1998.
Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 melambat hingga 3,0 persen sebelum mengalami pemulihan hingga meningkat sebesar 4,3 persen pada 2021.
“Perekonomian Indonesia mulai melambat di triwulan pertama, namun potensi terjadinya karantina di wilayah Jakarta dan bagian lain di Jawa, yang menjadi pusat pertumbuhan, bisa mendorong perlambatan lebih dalam,” ujar dia melalui keterangan tertulisnya yang diterima Senin (6/5/2020).
Shah mengatakan pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil untuk surat utang juga berpengaruh kepada kinerja pasar keuangan bila terjadi secara berkepanjangan.
“Nilai tukar rupiah yang melemah hingga 20 persen sejak Februari dan kenaikan yield surat utang negara dapat berpengaruh ke ekonomi apabila terjadi secara berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, masuknya arus modal dalam kondisi saat ini bisa saja menambah beban utang dan neraca eksternal yang secara tidak langsung mempunyai implikasi kepada kesehatan perusahaan dan kualitas aset bank.
Terkait penanganan kesehatan dan pemberian stimulus untuk menjaga kinerja perekonomian, menurut Shah, kebijakan Indonesia untuk menangani dampak covid-19 itu sedikit lebih lambat dari negara-negara lain di wilayah.
Meski demikian, fasilitas stimulus yang telah dirumuskan untuk menjaga kinerja perekonomian dan membatasi guncangan di sektor keuangan harus dikoordinasikan dengan lebih baik. (ATN)
