• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Negara di ASEAN Kian Mewaspadai Naiknya Permukaan Laut China Selatan

by Redaksi Asiatoday
October 14, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Negara di ASEAN tak akan Pernah Akui Klaim China di Laut China Selatan

Pulau buatan China di Laut China Selatan. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) kian mewaspadai naiknya permukaan air Laut China Selatan sebagai dampak kenaikan suhu dan perubahan iklim global.

Disamping soal konflik teritorial, perubahan iklim dan kenaikan suhu ini menjadi ancaman serius karena berpotensi menciptakan bencana yang lebih luas di kawasan. Karena itu dibutuhkan langkah mitigasi secara kolektif.

Gagasan bersama ini mencuat dalam forum Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea selama dua hari yang digagas oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia (RI) pada tanggal 13-14 Oktober 2021.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Forum itu diikuti 67 peserta dari 11 participating parties di kawasan Laut China Selatan, diantaranya Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, China, Taiwan, dan Viet Nam.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar, mengungkapkan bahwa sangat penting dibangun kolaborasi di antara participating parties untuk mengelola tantangan bersama di kawasan Laut China Selatan, seperti perubahan iklim dan dampak kenaikan permukaan air laut.

Hal serupa juga ditekankan oleh Prof. Dr. Muh Aris Marfai, M.Sc., Kepala Badan Informasi Geospasial RI.

“Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim di Laut China Selatan dibutuhkan sinergi antar negara di kawasan. Isu kenaikan permukaan air karena peningkatan suhu global perlu dihadapi bersama dengan berbagi ilmu dan pengalaman untuk melakukan mitigasi dampak kenaikan muka laut terhadap masyarakat di pesisir,” ujarnya.

Forum Lokakarya ini merupakan yang ke-30 sejak pertama kali digelar pada tahun 1990. Dalam kegiatan kali ini, ditampilkan perjalanan Lokakarya selama 30 tahun yang telah bekerjasama di bidang perubahan iklim dan lingkungan hidup, ilmu pengatahuan dan teknologi, serta kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Lokakarya didahului oleh Pertemuan Kelompok Kerja yang membahas studi tentang gelombang dan kenaikan permukaan laut dan dampaknya terhadap lingkungan pesisir di Laut China Selatan.

Selama 2 hari para peserta saling berbagi pengalaman dan membahas berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama, antara lain dampak, adaptasi dan kebijakan dalam perubahan iklim, termasuk dampak kenaikan permukaan laut terhadap masyarakat di pesisir di wilayah Laut China Selatan.

Selain itu, dibahas isu-isu lain seperti ekonomi biru dan sampah laut di Laut China Selatan dan dorongan kerjasama minyak nabati berkesinambungan di Laut China Selatan.

Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea pertama kali diselenggarakan pada tanggal 22-24 Januari 1990 di Bali. Sejak saat itu, lokakarya, yang tidak hanya melibatkan pemerintah tetapi juga swasta dan akademisi (1,5 track), secara konsisten menjadi wadah dialog dan kerjasama di berbagai proyek sebagai sarana membangun sikap saling mengerti untuk mencapai tujuan bersama di kawasan Laut China Selatan. (ATN)

Tags: Global WarmingLaut China SelatanPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.