• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Negara di Asia Berisiko Tinggi Mengalami Krisis Utang

by Redaksi Asiatoday
October 15, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
IMF: Tren Penurunan Ekonomi Asia Bertahan hingga 2022

Dana Moneter Internasional (IMF). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak bank sentral di kawasan Asia untuk memperketat kebijakan moneter, seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) 2022, IMF menilai ekonomi Asia perlu fokus pada stabilitas fiskal untuk mengimbangi lonjakan utang dan untuk mendukung kebijakan moneter.

IMF mengatakan Asia sekarang merupakan pengutang dan penabung terbesar di dunia dan bahwa beberapa negara berisiko tinggi mengalami kesulitan utang, seperti dikutip dai Bloomberg pada Jumat (14/10/2022).

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Itu artinya, setiap pengeluaran tambahan oleh pemerintah untuk mengimbangi pukulan dari guncangan pangan dan energi perlu ditargetkan, sementara dan anggaran netral.

“Dinamika utang publik dan swasta sudah lebih buruk setelah pandemi karena pertumbuhan yang lebih lambat, kenaikan suku bunga, dan tingkat utang yang lebih tinggi,” kata IMF.

IMF mengungkapkan depresiasi besar dan kenaikan suku bunga dapat memicu tekanan keuangan di negara-negara dengan leverage tinggi di antara perusahaan dan rumah tangga non-keuangan serta neraca yang tidak dilindungi lindung nilai.

Jika suku bunga terus meningkat tajam, kata IMF, itu akan membatasi pilihan pengeluaran pemerintah.

Peringatan itu datang ketika IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan 2022 untuk kawasan Asia-Pasifik sebesar 0,9 poin persentase menjadi 4 persen.

Untuk tahun 2023, IMF memprediksi pertumbuhan di Asia menjadi 4,3 persen, turun 0,7 poin persentase dari yang terlihat sebelumnya.

“Sementara tingkat pertumbuhan ini jauh lebih rendah dari tingkat pertumbuhan rata-rata 5,5 persen yang dinikmati selama dua dekade sebelumnya, kawasan Asia terus berkinerja lebih baik daripada ekonomi global lainnya,” kata IMF.

Risiko lainnya termasuk depresiasi nilai tukar yang besar yang dapat memicu inflasi dan memaksa pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat di wilayah tersebut.

Pasalnya, Asia rentan terhadap fragmentasi geo-ekonomi, atau decoupling, mengingat peran sentralnya sebagai pabrik dunia.

“Saran kami untuk sebagian besar kawasan agar kebijakan moneter terus diperketat, dan konsolidasi fiskal terus berlanjut,” tulis IMF. (ATN)

Tags: IMFKrisis Utang
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.