• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

OPEC+ Pangkas Kuota, Harga Minyak Terbang ke US$100/barel

by Redaksi Asiatoday
April 4, 2023
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Sinopec China, Mitra Utama Arab Saudi di Industri Minyak Bumi Lebih 2 Dekade

Fasilitas kilang minyak yang dibangun China Petroleum & Chemical Corporation (Sinopec) di Arab Saudi. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Keputusan kelompok OPEC+ memangkas kuota produksi secara tiba-tiba memicu lonjakan harga minyak ke level US$100 per barel.

Imbasnya, negara Barat bakal bergulat dengan inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi.

Keputusan ini menandakan persatuan dalam OPEC+, meskipun ada tekanan dari Amerika Serikat (AS) terhadap sekutu-sekutunya di Teluk untuk melemahkan hubungan mereka dengan Moskow, termasuk upaya Barat untuk membatasi pendapatan minyak Rusia.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Laporan Reuters pada Senin (3/4/2023), harga minyak melonjak lebih dari 6 persen setelah OPEC+ mengumumkan pemangkasan target produksi lebih lanjut sekitar 1,16 juta barel per hari (bph) mulai Mei sampai akhir 2023. Kesepakatan tersebut membawa total volume pemangkasan oleh kelompok tersebut sejak November menjadi 3,66 juta barel per, setara dengan 3,7 persen dari permintaan global.

OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan produksi stabil 2023, setelah memangkas 2 juta barel per hari pada November 2022.

Arab Saudi mengatakan pemangkasan produksi secara sukarela merupakan tindakan pencegahan yang bertujuan untuk mendukung stabilitas pasar.

Wakil Perdana Menteri (PM) Rusia Alexander Novak mengungkapkan gangguan terhadap dinamika pasar adalah salah satu alasan di balik pemangkasan tersebut.

“Pemangkasan baru ini mendukung bahwa kelompok OPEC+ masih utuh dan bahwa Rusia masih merupakan bagian integral dan penting dari kelompok tersebut,” kata analis SEB, Bjarne Schieldrop.

Adapun, Pihak Rystad Energy meyakini pemangkasan ini akan menambah ketatnya pasar minyak dan mengangkat harga di atas US$100 per barel untuk sisa 2023, yang mungkin akan membawa Brent mencapai US$110 pada musim panas ini.

UBS juga memperkirakan Brent akan mencapai US$100 pada Juni, sementara Goldman Sachs menaikkan prediksi Desember sebesar US$5 menjadi US$95.

Goldman mengatakan pelepasan cadangan minyak strategis (SPR) di Amerika Serikat dan Prancis, karena pemogokan yang sedang berlangsung, serta penolakan Washington untuk mengisi ulang SPR-nya pada tahun fiskal 2023, mungkin telah mendorong tindakan OPEC+.

Schieldrop mengatakan Harga yang lebih tinggi kemungkinan akan berarti lebih banyak pendapatan bagi Moskow untuk mendanai perangnya yang mahal di Ukraina, yang akan mengganggu hubungan Saudi-AS di masa depan.

“Pemerintah AS mungkin juga berpendapat bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan melawan upayanya untuk memadamkan api inflasi,” tuturnya.

Kepala ekonom di Sumitomo Corporation Global Research Takayuki Honma pasokan OPEC+ yang lebih ketat juga akan berdampak negatif bagi Jepang karena dapat meningkatkan inflasi dan melemahkan ekonomi negara tersebut.

“Negara-negara produsen tampaknya ingin melihat harga minyak naik ke US$90-$100/bbl, tetapi harga minyak yang lebih tinggi juga berarti risiko yang lebih tinggi dari penurunan ekonomi dan permintaan yang lesu,” tambahnya.

Pembelian oleh China diperkirakan akan mencapai rekor pada 2023 karena pulih dari pandemi Covi-19, sementara konsumsi dari importir nomor tiga India tetap kuat, kata para pedagang.

Dengan harga yang lebih tinggi dan berkurangnya pasokan minyak mentah asal Timur Tengah, China dan India mungkin akan terdorong untuk membeli lebih banyak minyak Rusia, sehingga meningkatkan pendapatan untuk Moskow.

Kenaikan harga Brent dapat mendorong Ural dan produk minyak Rusia lainnya ke harga di atas batas yang ditetapkan oleh Kelompok Tujuh Negara (G7) yang bertujuan untuk membatasi pendapatan minyak Rusia. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Harga Minyak MentahOPEC
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.