• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Para Ilmuwan Temukan Samudra ke-6 di Lapisan Bumi Terdalam

by Redaksi Asiatoday
October 5, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pandemi Coronavirus Pulihkan Lubang Ozon Bumi dari Pemanasan Global

Planet Bumi. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para ilmuwan mengungkapkan bahwa bumi memiliki samudra ke-6 tapi posisinya berada pada lapisan bumi paling dalam.

Saat ini, samudera yang ada di dunia dikenal hanya ada lima mulai dari Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, Samudra Hindia, Samudra Arktik, dan Samudra Antartika / Lautan Selatan.

Hasil studi internasional yang diterbitkan di Nature Geoscience itu menjelaskan bahwa reservoir air yang luas ini terletak di zona transisi antara mantel atas dan bawah pada kedalaman 410 hingga 660 km.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Para peneliti telah mempelajari berlian Botswana langka yang, menurut komposisi kimianya, terbentuk pada kedalaman 660km dalam kondisi sangat berair. Berlian alami umumnya terbentuk di mantel pada kedalaman antara 150 hingga 250 km, tetapi beberapa mungkin berasal dari kedalaman yang jauh lebih dalam.

Airnya, tidak memercik seperti di permukaan bumi tetapi terkunci di dalam mineral di sana membuat wilayah ini sangat basah.

“Ini juga membawa kita selangkah lebih dekat ke gagasan Jules Verne tentang lautan di dalam Bumi,” demikian laporan ANI Prof. Frank Brenker dari Institute for Geosciences di Goethe University di Frankfurt dilansir dari India Times.

Kecuali bahwa tidak ada air yang terlihat atau bahkan terasa di ‘lautan’ ini. Itu hanya ada di ringwodite mineral hidrat yang ada di sana sepanjang zona transisi.

Bagaimana para ilmuwan mengetahui semua itu dari melihat berlian itu? Sederhana. Berlian Botswana memiliki “penyertaan”, atau kantong, dari ringwodite – cacat yang akan membuatnya kurang berharga di toko perhiasan, tetapi tak ternilai harganya di laboratorium.

Kajian tersebut menegaskan sesuatu yang selama ini hanya sebatas teori, yakni air laut mengiringi lempeng subduksi dan dengan demikian memasuki zona transisi. Ini berarti bahwa siklus air planet kita mencakup interior Bumi.

Jadi, berapa banyak air yang akan ada di zona transisi? Secara teoritis, zona transisi akan mampu menyerap enam kali jumlah air di lautan kita.

“Jadi kami tahu bahwa lapisan batas memiliki kapasitas yang sangat besar untuk menyimpan air,” tutup Brenke. (ATN)

Tags: Planet Bumi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.