• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Parlemen AS Gagas Kaukus Kongres Uighur untuk Adili China

by Redaksi Asiatoday
July 30, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Parlemen AS Gagas Kaukus Kongres Uighur untuk Adili China

Gedung Parlemen Amerika Serikat (AS). Dok

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Parlemen bipartisan Amerika Serikat (AS) pada Kamis mengumumkan pembentukan kaukus kongres untuk mendorong upaya peradilan dalam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang sedang berlangsung di China terhadap minoritas Muslim Uighur.

Anggota Kongres Tom Suozzi dan Chris Smith mengatakan kaukus akan menyoroti pelanggaran HAM terhadap Muslim Uighur dan memberlakukan undang-undang untuk mengatasi kampanye pelanggaran HAM.

“Pemusnahan dan penahanan massal yang sedang berlangsung terhadap Muslim Uighur dan kelompok minoritas lain seperti Kazakh adalah kejahatan yang dilakukan oleh Partai Komunis China. AS tidak bisa diam ketika Presiden Xi Jinping menyiksa dan berusaha membasmi seluruh penduduk,” kata Smith dalam sebuah pernyataan.

RelatedPosts

Indonesia Flags Trafficking, Extortion Risks at Singapore-Malaysia Gateway

Indo-Pacific Seen as Stability Buffer as Global Geopolitical Risks Rise, Indonesia Says

BRICS Pushes for New Global Order: India, Russia and China Deepen Strategic Coordination

Di bawah pemerintahan Eks Presiden Donald Trump, AS menetapkan China telah melakukan genosida terhadap kelompok Muslim Uighur Xinjiang. Upaya ini terus dilakukan sampai sekarang di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden. Xinjiang adalah rumah bagi 10 juta orang Uighur.

Namun, Pemerintah China secara rutin menyangkal keberadaan kamp penahanan meskipun ada banyak bukti yang bertentangan. Hingga satu juta Muslim Uighur diyakini ditahan di fasilitas tersebut.

Pemerintah China mengklaim situs tersebut adalah pusat pendidikan ulang yang diklaim dibangun untuk mereformasi penduduk lokal dan mengajarkan keterampilan baru.

Namun, para penyintas dan mantan tahanan telah berbicara tentang tindakan penyiksaan yang brutal dan tidak manusiawi, baik fisik maupun psikologis. Ini termasuk sterilisasi paksa terhadap perempuan Uighur, pemerkosaan, dan penghapusan paksa identitas agama.

Direktur Eksekutif Organisasi Nirlaba Kampanye untuk Uighur Rushan Abbas yang berkampanye untuk pembentukan Kaukus kongres Uighur mengatakan itu adalah alasan untuk perayaan dan pengakuan karena Partai Komunis China menargetkan untuk melenyapkan Uighur dengan genosidanya.

“Saya sangat berterima kasih atas perkembangan ini di Kongres AS. Ini merupakan sebuah sinyal nyata bahwa perjuangan Uighur memasuki arus utama,” ujarnya sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Jumat (30/7/2021). (ATN)

Tags: Amerika SerikatChinaHuman RightsSave Uighur
No Result
View All Result

Terbaru

  • ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution
  • Indonesia Tells Global Leaders: Net Zero Means Nothing Without Nature
  • As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes
  • Indonesia Bets on AI to Fix Healthcare Gaps, But Risks Leaving Vulnerable Workers Behind
  • Indonesia Flags Trafficking, Extortion Risks at Singapore-Malaysia Gateway
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.