ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pasar properti di Singapura tengah meredup. Pasalnya, penjualan apartemen mengalami kemerosotan pada Desember 2019.
Berdasarkan data Urban Redevelopment Authority Singapura, pengembang di negeri itu hanya menjual 538 unit apartemen sepanjang Desember 2019, turun 54 persen dibandingkan dengan penjualan pada November sebanyak 1.165 unit.
Penurunan penjualan juga merupakan dampak dari turunnya jumlah unit yang diluncurkan yang hanya mencapai 370 unit apartemen pada Desember, jauh di bawah 947 unit diluncurkan pada November.
Harga hunian di Singapura juga hanya mengalami kenaikan tipis 0,30 persen pada kuartal akhir 2019, melambat dari kuartal sebelumnya yang naik 1,30 persen. Hal ini dinilai sebagai dampak dari aturan pemerintah yang diterapkan sejak Juli 2018 yang membebani pasar.
Di lain pihak, pasar properti Singapura juga mengalami kelebihan pasokan dengan adanya 32.000 unit apartemen yang belum terjual. Hal ini membuat bank sentral Singapura memberi peringatan kepada pengembang untuk menekan harga lebih dalam lagi.
“Penjualan diperkirakan tetap rendah pada bulan Januari ini dengan adanya peringatan Tahun Baru Imlek pada 25 Januari mendatang. Setelah libur besar selesai, penjualan mungkin baru akan kembali naik,” jelas Head of Research APAC Realty Ltd. di Singapura Nicholas Mak, melansir Bloomberg Senin (20/01/2020).
Menirit Mak, pengembang tidak mungkin menurunkan harga. Reputasi pengembang bakal hancur apabila sebelumnya mereka meluncurkan proyek dengan harga tinggi, kemudian tak berselang lama meluncurkan proyek yang harganya lebih murah.
Christine Sun, Head of Research and Consultancy OrangeTee & Tie Pte., menambahkan bahwa permintaan hunian diperkirakan tetap kuat dan penjualan bisa mencapai 9.000 hingga 9.800 unit pada 2020. Sementara untuk harga kemungkinan bisa naik 2 persen hingga 4 persen. (ATN)
