• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Pendanaan Start Up Properti di Asia Pasifik Menurun Tajam

by Redaksi Asiatoday
March 5, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pendanaan Start Up Properti di Asia Pasifik Menurun Tajam

Kantor perusahaan konsultan, Jones Lang LaSalle. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Hasil penelitian terbaru konsultan properti, Jones Lang LaSalle (JLL) dan perusahaan media teknologi Tech in Asia mengungkap, suntikan dana untuk perusahaan-perusahaan rintisan di bidang teknologi properti di kawasan Asia Pasifik mengalami penurunan tajam pada 2019.

Menurut Director of Proptech JLL Asia Pasifik Jordan Kostelac, setelah meraih pendanaan lebih dari USD1 miliar pada 2018, perusahaan-perusahaan rintisan di bidang teknologi properti (Proptech) mengalami penurunan volume pendanaan sebesar 38,4 persen pada 2019.

Dikatakan, pada tahun lalu start-up di bidang teknologi properti di wilayah Asia Pasifik meraih pendanaan sebesar USD625,9 juta.

RelatedPosts

Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts

Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Tak hanya itu, jumlah kesepakatan pendanaan juga berkurang dari 50 kesepakatan pada 2018, menjadi hanya 38 kesepakatan pada 2019.

Walau demikian kata dia, angka-angka tersebut hanya menunjukkan minat venture capital (VC) dan kurang mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di industri realestat.

Jordan memandang, minat terhadap Proptech di Asia Pasifik juga sebetulnya masih terus tumbuh dan para pemain lama saat ini lebih menggunakan pendekatan strategis dan terintegrasi, dibanding menggunakan jalur investasi melalui VC.

“Industri realestat relatif terlambat dalam menghadapi revolusi teknologi, hal ini memberikan kesempatan bagi perusahaan besar dan perusahaan real estate untuk berinovasi dan berinvestasi secara internal dalam teknologi,” jelasnya melalui keterangan tertulis, yang diterima Kamis (5/3/2020).

Jordan mengungkapkan, di Asia Pasifik, adopsi teknologi bagi perusahaan dinilai sangat cepat lantaran sifat pasar yang dinamis. Banyak perusahaan memasuki kemitraan sambil meningkatkan uji coba dan penerapan teknologi baru dalam portofolio mereka.

“Misalnya, JLL memiliki solusi teknologi yang luas dan kami juga telah mendirikan Global Centre of Expertise for Technology, Data and Information Management dua tahun lalu untuk mengembangkan solusi baru dengan memanfaatkan teknologi terbaru yang tersedia,” imbuhnya. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Asia BusinessAsia Pasifik DigitalJones Lang LaSalleProperti AsiaProptechStartup IndonesiaStarupTech in Asia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.