• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Perubahan Iklim Mengancam Kepunahan Manusia di Planet Bumi

by Redaksi Asiatoday
October 17, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Indonesia Darurat Kekeringan, Puluhan Ribu Jiwa di Cilacap Krisis Air Bersih

Kekeringan ekstrem. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah studi mengungkap tentang ancaman kepunahan spesies manusia akibat perubahan iklim.

Para ilmuan mengingatkan hal itu merujuk pada temuan bahwa manusia purba mengalami kepunahan akibat perubahan iklim.

Dari enam spesies manusia purba yang ada di Bumi hampir tiga juta tahun yang lalu, hanya homo sapiens yang satu-satunya mampu bertahan hidup.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Dalam studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal One Earth menunjukkan bahwa perubahan iklim memainkan peran utama dalam membentuk sejarah evolusi kehidupan di Bumi. Studi tersebut menyoroti ketidakmampuan manusia untuk beradaptasi dengan pemanasan atau iklim dingin.

Salah satu penulis studi Pasquale Raia dari Universitas Napoli Federico II di Naples, Italia, mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa terlepas dari inovasi teknologi termasuk penggunaan api dan perkakas batu halus, jaringan sosial yang kompleks bahkan produksi ujung tombak yang direkatkan, pakaian yang pas dan sejumlah pertukaran budaya serta genetik dengan homo sapiens, manusia purba tidak dapat bertahan hidup dari perubahan iklim yang intens.

“Mereka berusaha keras, mereka pergi ke tempat-tempat terhangat yang dapat dijangkau saat iklim menjadi dingin, tetapi pada akhirnya itu tidak cukup,” jelas dia dikutip dari Express UK, Sabtu (17/10/2020).

Studi tersebut menggabungkan model iklim dengan data dari catatan fosil untuk menganalisis apa yang terjadi pada anggota genus homo sebelumnya. Ini termasuk homo habilis (tukang), homo ergaster (pekerja), homo erectus (tegak), homo neanderthalensis (Neanderthal), homo heidelbergensis (manusia heidelberg) dan homo sapiens (orang bijak).

Model iklim para peneliti mensimulasikan curah hujan dan data suhu yang mencakup lima juta tahun terakhir. Studi tersebut menemukan setidaknya tiga spesies homo yakni homo erectus, homo heidelbergensis dan homo neanderthalsis kehilangan sebagian dari ruang relung iklim mereka tepat sebelum mereka punah.

Para peneliti percaya ini bertepatan dengan perubahan tajam dalam iklim global dan peningkatan kerentanan terhadap perubahan tersebut. 

“Kami terkejut dengan keteraturan efek perubahan iklim. Sangat jelas, untuk spesies punah dan hanya untuk mereka, bahwa kondisi iklim terlalu ekstrim sebelum kepunahan dan hanya pada saat tertentu,” terang Raia.

Berbicara tentang korelasi dengan kasus manusia purba, sejak paruh kedua abad ke-20, para ilmuwan telah membunyikan lonceng peringatan tentang pemanasan global antropogenik dan perubahan iklim.

Emisi berkelanjutan dari gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) telah menyebabkan peningkatan suhu, naiknya permukaan laut, cuaca yang lebih ekstrim di seluruh dunia dan ancaman kehancuran ekosistem secara keseluruhan.

Beberapa model memperkirakan planet bumi akan menghangat antara 2C dan 6C pada akhir abad ke-21. Dan sebagian dari pemanasan ini diperkirakan akan terjadi bahkan jika emisi rumah kaca di masa depan dapat dikendalikan.

Pemanasan akan menyebabkan peningkatan curah hujan, lebih seringnya banjir dan erosi pantai, mencairnya lapisan es kutub dan gletser, dan bahkan mempengaruhi penyebaran penyakit menular.

Oleh karena itu, Raia percaya bahwa sangat penting untuk belajar dari masa lalu.

“Sangat mengkhawatirkan untuk mengetahui bahwa nenek moyang kita, yang tidak kalah mengesankan dalam hal kekuatan mental dibandingkan dengan spesies lain di Bumi, tidak dapat menahan perubahan iklim. Saya pribadi menganggap ini sebagai pesan peringatan yang menggelegar,” tandasnya. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal WarmingPemanasan GlobalPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.