• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Sunday, June 7, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Perubahan Iklim Pengaruhi Ekologi Sungai, Dampaknya Banjir dan Kekeringan

by Redaksi Asiatoday
March 22, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Sungai Meluap, Australia Diterjang Banjir Terparah dalam 60 Tahun

Bencana banjir di Australia akibat luapan sungai. Foto: wileades

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perubahan iklim global sebagai efek gas rumah kaca makin nyata mempengaruhi keseimbangan air di planet Bumi.

Ekologi Daerah Aliran Sungai (DAS) paling rentan mengalami kerusakan sehingga dikhawatirkan dapat mempengaruhi jumlah air di sungai yang berpotensi mengakibatkan lebih banyak banjir atau kekeringan.

Riset menyebutkan, aliran sungai merupakan indikator penting ketersediaan sumber daya air bagi manusia dan lingkungan. Jumlah air yang tersedia juga bergantung pada siklus air atau perubahan penggunaan lahan.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Jika, misalnya, air dialihkan untuk irigasi atau diatur melalui waduk, atau hutan dibuka dan tanaman monokultur ditanam di tempatnya, ini dapat berdampak pada aliran sungai.

Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ETH Zurich menganalisis data dari 7.250 stasiun pengukur di seluruh dunia. Studi yang telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah terkenal Science, menunjukkan bahwa aliran sungai berubah secara sistematis antara tahun 1971 dan 2010.

Pola kompleks terungkap — beberapa wilayah seperti Mediterania dan Brasil bagian timur laut menjadi lebih kering, sementara di tempat lain volume sungai meningkat seperti di Skandinavia.

“Pertanyaan sebenarnya, bagaimanapun, menyangkut penyebab perubahan ini,” kata Lukas Gudmundsson, penulis utama studi dan asisten senior dalam kelompok yang dipimpin oleh Sonia Seneviratne, profesor di Institut Ilmu Atmosfer dan Iklim di ETH Zurich, dikutip Senin (22/3/2021).

Untuk menjawab pertanyaan ini, para peneliti melakukan beberapa simulasi komputer, menggunakan model hidrologi global yang diumpankan dengan data iklim yang diamati dari periode yang diteliti (1971 hingga 2010).

Hasil perhitungan model sangat cocok dengan analisis aliran sungai yang diamati.

Dalam prosedur kedua, para peneliti memasukkan air dan pengelolaan lahan tambahan dalam simulasi mereka untuk mempelajari pengaruh faktor-faktor ini. Namun, ini tidak mempengaruhi hasil.

“Perubahan tata air dan pengelolaan lahan ternyata bukan penyebab perubahan global sungai,” ujarnya.

Para peneliti kemudian membuktikan peran perubahan iklim menggunakan metode deteksi dan atribusi. Untuk ini mereka membandingkan pengamatan dengan simulasi dari model iklim yang dihitung sekali dengan gas rumah kaca buatan manusia.

Dalam kasus pertama simulasi mencocokkan data aktual, tetapi dalam kasus kedua tidak.

“Ini menunjukkan bahwa perubahan yang diamati sangat tidak mungkin tanpa perubahan iklim,” kata Gudmundsson.

Data ini sekarang mewakili kumpulan data global terbesar dengan pengamatan aliran sungai yang tersedia saat ini.

“Berkat data ini, kami dapat memvalidasi model dan menunjukkan bahwa model tersebut memberikan refleksi yang baik dari kenyataan,” kata Gudmundsson.

Ini berarti bahwa model tersebut juga dapat memberikan skenario yang dapat diandalkan tentang bagaimana sungai akan terus berubah di masa depan.

Proyeksi tersebut memberikan dasar penting untuk perencanaan di daerah yang terkena dampak untuk mengamankan pasokan air dan menyesuaikan diri dengan perubahan iklim . (ATN)

Tags: Climate ChangePerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming
  • Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange
  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.