• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, July 15, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Peternak Menjerit, Minta Pemerintah Tutup Keran Impor Bebek dari Malaysia

by Redaksi Asiatoday
July 22, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Peternak Menjerit, Minta Pemerintah Tutup Keran Impor Bebek dari Malaysia 1

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) meminta pemerintah untuk tidak membuka kembali keran impor daging bebek dari Malaysia menyusul adanya pengakuan bahwa produk unggas di negara tersebut telah terbebas dari avian influenza (AI) atau flu burung.

Menurut Ketua Himpuli Ade M Zulkarnain, jika keran impor kembali dibuka, dikhawatirkan akan memukul peternakan bebek, khususnya peternak tradisional di dalam negeri.

“Himpuli mendesak Kementerian Pertanian untuk tidak memberi persetujuan impor daging bebek Malaysia,” ujarnya melalui keterangan resminya, Senin (22/7/2019).

RelatedPosts

California Seeks Strategic Partnership with Indonesia

FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny

Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert

Dikatakan Ade, saat ini, sudah ada importir asal kota Medan yang mengajukan permohonan impor daging bebek asal Perak, Malaysia.

Untuk itu, dia meminta agar Kementerian Pertanian selaku pihak yang berhak memberi rekomendasi untuk izin impor tidak menyetujui permintaan tersebut.

Ade menuturkan sejak ditutupnya keran impor daging bebek dari Malaysia pada kuartal pertama 2017 lalu, peternakan bebek dalam negeri tampak mulai bergairah yang ditunjukkan dengan perbaikan produksi. Adapun ditutupnya keran impor ini lantaran virus flu burung yang merebak di negara tersebut.

Dia mengungkapkan pada tahun lalu, produksi daging bebek dalam negeri mencapai 56.000 ton. Angka ini naik dari rata-rata produksi pada tahun-tahun sebelumnya yang tercatat hanya sebanyak 45.000 ton per tahun.

Namun, belakangan serapan pasar untuk daging unggas ini berkurang. Ade tidak merinci penyebab berkurangnya serapan pasar ini, tetapi pihaknya mencatat konsumsi selama 2018 hanya mencapai 52.000 ton.

Selain itu, tekanan pun akan muncul dari sisi harga. Pasalnya, saat ini, harga bebek produksi dalam negeri tercatat mencapai 35.000 per kilogram (kg) dengan biaya produksi mencapai Rp30.000 per kg, sementara harga bebek impor asal Malaysia ditengarai hanya sekitar Rp30.000 per kg.

“Karena ini pasarnya terbatas, harusnya jadi porsi peternak lokal,” tegas Ade. (Lis/AT)

Tags: ImporImpor BebekKementanMalaysiaPeternak Unggas
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.