• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Picu Perubahan Iklim, Indonesia Didorong Tangani Limbah Pangan

by Redaksi Asiatoday
October 9, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Picu Perubahan Iklim, Indonesia Didorong Tangani Limbah Pangan

Tempat pembuangan limbah makanan di Indonesia. ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemborosan pangan menjadi sorotan kalangan aktivis lingkungan. Pasalnya, limbah tersebut turut berkonstribusi dan memicu perubahan iklim.

Ironisnya, tak banyak masyarakat di Indonesia yang belum paham soal ini karena pengetahuan tentang limbah organik yang masih kurang.

Menurut Pendiri Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) Satya Hangga Yudha Widya Putra, pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca bisa dipicu oleh limbah.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Di Indonesia kenaikan itu lebih banyak disebabkan oleh sektor kehutanan, energi dan industri, sehingga Indonesia lebih banyak fokus di bidang tersebut dibanding limbah,” terang Hangga dikutip antara, Rabu (9/10/2019).

Hangga memandang, kondisi ini mengakibatkan limbah organik jarang menjadi fokus. Apalagi, Indonesia juga tak terlalu memperhatikan masalah pemborosan pangan.

Menurut Hangga, Indonesia selama ini lebih fokus pada masalah kehutanan, sawit dan energi terbarukan. Limbah memang dibahas, baik di seminar maupun konferensi, namum tidak terlalu didalami.

“Karena menurut saya isu limbah makanan itu sering diremehkan dan diabaikan,” jelas Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rumah Millennials itu.

Padahal kata dia, gas metana yang dihasilkan oleh limbah organik berupa sisa makanan yang sudah bercampur di tempat pembuangan akhir tersebut sangat besar. Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2. Gas tersebut dapat memperburuk pemanasan global danmenjadi penyebab perubahan iklim secara langsung.

Oleh karena itu, Hangga menyarankan agar pemerintah dan berbagai lembaga harus mulai menggalakkan edukasi mengenai permasalahan limbah, terutama makanan, yang disebabkan oleh pemborosan pangan.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) PBB tahun 2016 dan 2017 menemukan bahwa setiap orang di Indonesia membuang sekitar 300 kg makanan setiap tahun. Indonesia menempati posisi kedua setelah arab Saudi dengan rata-rata limbah pangan 427 kg makanan per tahun.(AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Limbah IndustriLimbah MakananPerubahan IklimSatya Hangga Yudha
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.