• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Polusi Udara Picu Kematian Paling Banyak Akibat Covid-19

by Redaksi Asiatoday
November 5, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
China Hasilkan Emisi Karbon Dioksida Sebanyak 319 Juta Ton pada 2019

Emisi karbon dioksida, sumber polusi udara di China. Foto : in habitat

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para peneliti di Harvard University menemukan bahwa polusi udara memicu kematian paling terbanyak akibat pandemic Covid-19.

Temua para ahli, terjadi peningkatan kecil dalam paparan jangka panjang orang terhadap polusi udara dikaitkan dengan peningkatan 11 persen kematian akibat Covid-19. Studi lain menunjukkan bahwa 15 persen kematian akibat Covid-19 baru disebabkan oleh udara kotor.

Menurut para peneliti, ada bukti keterkaitan yang cukup kuat antara tingkat udara kotor dengan kematian akibat Covid-19. Udara kotor harus dianggap sebagai faktor kunci dalam menangani pandemi, kendati penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Sebagian besar ilmuwan memandang sangat mungkin polusi udara meningkatkan jumlah keparahan kasus Covid-19. Menghirup udara kotor selama bertahun-tahun telah menyebabkan penyakit jantung dan paru-paru, yang memperburuk infeksi virus corona.

Metode standar untuk mengkonfirmasi hubungan antara polusi udara dan Covid-19 adalah dengan menilai sejumlah besar pasien Covid-19 pada tingkat individu, usia, riwayat merokok, dan detail lainnya yang dapat diperhitungkan.

Menurut Francesca Dominici, peneliti dari Harvard University, saat ini ada ratusan studi tingkat kelompok yang telah dilakukan terkait dengan tema ini, kendati sebagian besar belum dilakukan peninjauan.

Dia mengatakan, ada cukup bukti untuk segera mengambil tindakan. “Tim sudah memiliki banyak bukti tentang efek merugikan kesehatan dari polusi partikel halus sehingga perlu penerapan aturan yang lebih ketat,” jelasnya dikutip dari The Guardian, Kamis (5/11/2020).

“Jumlah bukti terkait Covid-19 juga cukup besar karena sama sekali tidak ada ruginya untuk memprioritaskan beberapa area yang lebih rentan,” tandasnya.

Kebijakan yang diminta termasuk mengurangi polusi dan meningkatkan perawatan kesehatan di tempat paling berpolusi.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mempertimbangkan dampak dari peningkatan satu dalam polusi partikel rata-rata selama 16 tahun sebelum pandemi terhadap kematian Covid-19 di 3.089 negara bagian Amerika Serikat, setara dengan 98 persen populasi.

Mark Miller, ahli tentang dampak kesehatan dari polusi udara di Edinburgh University mengatakan bahwa kendati penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat, bukan tidak mungkin hal serupa juga terjadi di negara-negara lain.

Studi lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Cardiovascular Research menggunakan data polusi udara global dan penelitian Harvard, untuk memperkirakan proporsi kematian akibat Covid-19 yang disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap partikel halus.

Mereka menyimpulkan bahwa 15 persen kematian di seluruh dunia mungkin disebabkan oleh kerusakan akibat udara kotor pada jantung dan paru-paru. Ini setara dengan 180.000 kematian dari total 1,2 juta kasus kematian akibat coronaviorus baru.

Tim juga membuat perkiraan untuk negara-negara tertentu terkait kematian kasus Covid-19 akibat polusi udara. China dengan angka 27 persen, Jerman sebesar 26 persen, Amerika Serikat 18 persen, dan Inggris dengan persentase 14 persen. Mereka menyebut studi lanjutan diperlukan pada individu untuk mengkonfirmasi hasil.

Anna Hansell dari University of Leicester mengatakan kendati sangat mungkin bahwa ada hubungan antara polusi udara dan kematian akibat Covid-19, masih terlalu dini untuk mencoba mengukurnya secara tepat mengingat bukti yang ada masih belum banyak.

“Namun, ada banyak alasan bagus lainnya untuk bertindak sekarang untuk mengurangi polusi udara, yang sudah dikaitkan dengan 7 juta kematian di seluruh dunia per tahunnya oleh World Health Organization (WHO),” tandasnya. (ATN)

Tags: Climate CrisisEmisi KarbonPolusi Udara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.