• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Protes Diskriminasi Sawit, Indonesia harus Lawan Uni Eropa di WTO

by Redaksi Asiatoday
January 18, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Protes Diskriminasi Sawit, Indonesia  harus Lawan Uni Eropa di WTO

Mari Elka Pangestu. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Penasihat Komisi Global untuk Geopolitik Transformasi Energi International Renewable Energy Agency (IRENA) Mari Elka Pangestu menyoroti diskriminasi sawit Indonesia yang dilakukan oleh Uni Eropa (UE). Indonesia diharapkan tidak tinggal diam dan perlu melakukan perlawanan yang lebih elegan.

Uni Eropa bersikeras untuk tidak menerima bahan bakar berbasis kelapa sawit dari Indonesia. Sementara itu, produk lain yang berbasis kelapa sawit tidak dipermasalahkan.

“Langkah Uni Eropa mengherankan. Biofuel berbasis kelapa sawit dilarang, tapi yang lain tidak dilarang. Itu tidak adil. Namanya diskriminasi, dari segi fairness of trade. Harus fight di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Oganization/WTO),” tegas Mari, di The Tribrata, Jakarta, Jumat (17/01/2020).

RelatedPosts

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Bangladesh’s Banking Crisis Deepens as World Bank Unveils $450 Million Rescue Package

Mari memandang Uni Eropa tidak fair. Ia bahkan heran dengan sorotan negatif terhadap penggunaan kelapa sawit dalam biofuel, sementara penggunaan kelapa sawit untuk makanan dan kosmetik belum terlalu negatif.

“Tentunya ini harus dipelajari, ke depan mau seperti apa. Saya memandang, kalau mau menggunakan kelapa sawit sebagai sektor yang dikembangkan, harus dipikirkan untuk penggunaan yang lain. Selain untuk makanan dan biofuel, banyak turuannya bisa dimanfaatkan dengan Inovasi tentunya,” imbuhnya.

Menurut Mari, kelapa sawit Indonesia tidak seburuk seperti yang dipandang Uni Eropa. Kelapa sawit, memberikan banyak dampak positif bagi lingkungan.

“Paling efiisen untuk penggunaan lahan. Kalau bicara environment impact, yaitu penggunaan lahannya,” kata Mari, yang kini juga menjabat Direktur Pelaksana, Kebijakan, dan Kemitraan Pembangunan Bank Dunia.

“Jika membaca tren, persaingan dunia saat ini ialah penggunaan kelapa sawit untuk makanan dan biofuel. Hanya saja, penggunaan kelapa sawit terhadap biofuel menjadi tantangan yang besar. Selama menunjukkan proses sustainable, makanan oke saja. Hanya saja masalahnya di biofuel,” tandasnya. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Bank DuniaBiofuelEnergi Baru TerbarukanIndonesia vs Uni EropaIndustri SawitMari Elka PangestuSawit IndonesiaUni EropaWTO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026
  • Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals
  • Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.