• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Proyeksi OECD: Pemulihan Ekonomi Global Masih Rapuh

by Redaksi Asiatoday
March 18, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Proyeksi OECD: Pemulihan Ekonomi Global Masih Rapuh

Ribuan kendaraan yang menunggu proses pengiriman di Pelabuhan Yantai di Yantai, Provinsi Shandong, China timur. Dok Xinhua

ASIATODAY.ID, ROMA – Dunia berada di tengah-tengah “pemulihan ekonomi yang rapuh” akibat dampak pandemi virus corona dan konflik antara Rusia-Ukraina, seperti disampaikan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) pada Jumat (17/3).

Dalam laporan “Economic Outlook, Interim Report” yang dirilis pada Jumat, OECD memprediksi ekonomi global akan tumbuh sebesar 2,6 persen tahun ini dan kemudian lajunya meningkat 2,9 persen pada 2024 seiring berkurangnya dampak berkepanjangan dari krisis Ukraina, seperti masalah pasokan energi dan inflasi.

“Penurunan harga energi telah berkontribusi pada peningkatan moderat dalam prospek global,” kata OECD dalam sebuah pernyataan.

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Laporan tersebut memprediksi ekonomi China akan tumbuh paling cepat di dunia tahun ini, dengan pertumbuhan sebesar 5,3 persen, sedangkan ekonomi AS akan tumbuh 1,5 persen tahun ini dan 0,9 persen pada 2024.

Dalam rekomendasinya, OECD menyerukan negara-negara untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ditujukan pada upaya menurunkan inflasi, menargetkan dukungan fiskal ke sektor-sektor yang terdampak paling parah, dan mengambil langkah-langkah untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Ekonomi DuniaOECD
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.