ASIATODAY.ID, TEL AVIV – Ribuan warga Israel Turun ke jalan menyuarakan protes dan penolakan atas rencana Israel mencaplok wilayah Tepi Barat, Palestina. Aksi unjukrasa itu menggema di Tel Aviv, pada Sabtu (6/6/2020) malam.
Demonstran yang dimotori kalangan LSM dan partai-partai politik sayap kiri Israel, mengibarkan bendera Israel dan Palestina sambil memegang spanduk bertuliskan pesan penentangan terhadap pendudukan Tepi Barat dan kemungkinan aneksasi atau pencaplokan wilayah itu.
“Kita, rakyat Palestina dan Yahudi, telah melakukan begitu banyak kerusakan satu sama lain,” kata Anat Schrieber, seorang peserta demo, kepada AFP.
“Kita bersaudara, kita berada di sini, kita berdua, kita bisa melakukan lebih banyak hal bersama daripada secara terpisah,” lanjutnya.
Peserta aksi lainnya, Eden menyerukan “keadilan bagi Palestina dan perdamaian bagi Israel dan Palestina.”
“Dalam realitas apartheid tidak akan ada kedamaian bagi kita atau mereka, juga tidak ada keadilan,” ujarnya.
Para demonstran memandang, pencaplokan wilayah akan melanggar hukum internasional dan kemungkinan memicu ketegangan baru di wilayah yang bergejolak itu.
“Saya takut dengan rencana aneksasi,” kata Eden. “Saya pikir itu akan menyebabkan kerusuhan dan bahkan perang.”
“Rencana itu tidak akan mencapai apa-apa, tidak memiliki kaitan dengan perdamaian”.
Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump pada awal tahun ini, memberi lampu hijau kepada Israel untuk mencaplok permukiman Yahudi dan wilayah strategis lainnya di Tepi Barat.
Sebagai bagian dari perjanjian untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan pemimpin Partai Biru dan Putih Benny Gantz, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dapat menyerahkan rencana Trump itu ke kabinetnya dan parlemen paling cepat 1 Juli.
Rencana itu juga mewacankan pembentukan negara Palestina, tetapi dengan luas wilayah yang dikurangi dan tanpa memenuhi permintaan utama Palestina untuk memiliki ibu kota di Yerusalem timur. Palestina sendiri langsung menolak rencana itu. (ATN)
