• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Rusia Desak IAEA Pantau Kesepakatan Nuklir antara AS dan Australia

by Redaksi Asiatoday
September 18, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Badan Atom Dunia Sumbang Alat Deteksi Covid-19 ke Indonesia

Markas Badan Atom Dunia atau International Atomic Energy Agency (IAEA). Ist

ASIATODAY.ID, MOSKOW – Rusia merespon kesepakatan kerjasama kapal selam Nuklir antara Australia dan Amerika Serikat (AS).

Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional di Wina, Mikhail Ulynov, mempertanyakan upaya non-proliferasi di seluruh dunia. Hal itu terkait dengan terbentuknya aliansi UIKUS yang baru dibuat Amerika Serikat (AS), Inggris , dan Australia .

Australia, Inggris, dan AS mengumumkan pembentukan kemitraan pertahanan dan keamanan baru AUKUS untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan bersama ketiga negara itu di Indo-Pasifik. Inisiatif pertama dari kerja sama itu adalah penciptaan teknologi kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

“Pada saat yang sama, isu pelanggaran non-proliferasi nuklir sedang diangkat. Mengapa? Karena Amerika Serikat dan Inggris membutuhkan waktu 17 bulan untuk memutuskan bagaimana membantu Australia menguasai teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir,” ujarnya.

“Dari sudut pandang non-proliferasi, ini adalah masalah yang sangat sensitif, karena kapal selam beroperasi pada uranium yang sangat diperkaya, yang pada prinsipnya dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir”, kata Ulyanov kepada stasiun Rossiya 24, sebagaimana dilaporkan Sputnik,Sabtu (18/9/2021).

Diplomat Rusia itu juga mengatakan bahwa sangat jelas bahwa dari sudut pandang politik, aliansi AUKUS tampaknya ditujukan terhadap China dan bahwa kegiatan pakta tersebut harus dipantau secara ketat oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Menurut dia, Rusia meminta Dewan Gubernur IAEA untuk menjaga situasi tetap terkendali setelah akuisisi teknologi nuklir Australia dalam aliansi AUKUS yang baru.

“Keputusan ini cukup tidak terduga dan aneh. Mencoba menilai situasi dari sudut pandang strategis, saya tidak mengerti mengapa Australia perlu memperoleh teknologi sensitif seperti itu sekarang. Tidak ada penjelasan rasional. Ini dapat menciptakan masalah skala global bagi rezim non-proliferasi nuklir,” ujarnya.

“Saya pikir kami akan fokus untuk memastikan bahwa tidak hanya Sekretariat IAEA dengan mekanisme inspeksinya tetapi juga Dewan Gubernur, sebagai badan pengatur, menjaga seluruh situasi tetap terkendali”, Ulyanov menekankan.

Pembentukan AUKUS diumumkan Rabu malam oleh Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, dan mitranya dari Inggris Boris Johnson.

Kedutaan Besar China di Washington, dalam menanggapi pembentukan kemitraan AUKUS, mendesak semua negara untuk menyingkirkan mentalitas Perang Dingin mereka dan menahan diri dari menciptakan aliansi melawan pihak lain.

“Ini membuktikan sekali lagi bahwa negara-negara ini menggunakan ekspor nuklir sebagai alat untuk permainan geopolitik”, kata Kedutaan China, seraya menambahkan bahwa setiap mekanisme regional tidak boleh merugikan kepentingan negara ketiga. (ATN)

Tags: Indo PasifikSenjata Nuklir
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.