• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Saatnya Indonesia Hilirisasi Timah, Bahan Baku Industri Baterai Kendaraan Listrik

by Redaksi Asiatoday
February 16, 2021
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Potensi Menjanjikan, Hilirisasi Tambang Timah di Indonesia Masih Rendah

Jejak Tambang Timah ilegal di Bangka, Belitung. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia didorong untuk melakukan hilirisasi mineral timah. Pasalnya, Timah menjadi salah satu bahan baku dalam komponen baterai kendaraan listrik.

Namun hilirisasi timah belum sepenuhnya mendapatkan perhatian dari pemerintah, padahal timah dinilai mampu berkontribusi dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Menurut akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM0, Fahmy Radhi, timah sebagai sumber daya alam strategis yang tidak terbarukan, sudah saatnya diolah dan tidak lagi dijual dalam bentuk mentah. Dengan adanya rencana pemerintah untuk membangun industry baterai, tentu menjadi peluang untuk pemain komoditas timah dalam memanfaatkan peluang ini.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Indonesia sudah saatnya melakukan hilirisasi Timah ini. Timah sebagai sumber daya alam strategis harus bisa melakukan diversifikasi produk dan salah satu produk hilirnya bisa digunakan sebagai komponen untuk bahan baku baterai yang akan dikembangkan di Indonesia,” jelas Fahmy di Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Fahmy memandang, pemerintah belum begitu serius dalam mengelola mineral timah. Hal ini terlihat dari beberapa kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya mendukung hilirasasi produk timah.

“Nikel sudah ada regulasi yang melarang ekspor nikel tanpa diolah dan dimurnikan di smelter di Indonesia. Ini menunjukkan perhatian pemerintah untuk menurunkan ekspor nikel dalam bentuk mentahnya. Kita tentunya juga berharap ada regulasi yang melarang timah di ekspor tanpa diolah misalnya jangan hanya dalam bentuk balokan, tapi diolah dulu,” imbuhnya.

Menurut dia, Indonesia tidak bias lagi mendunda ini dan sudah saatnya komoditas timah harus mendapat perhatian serius dengan potensi mineral yang dimiliki. Percepatan produk hilirasi timah harus segera dilakukan sebelum habis dan hal ini perlu dukungan pemerintah.

“Timah itu kekayaan alam yang harus dikelola negara, ini bisa dilakukan dengan BUMN sebagai representasi negara,” ujarnya.

Sebagai referensi, mineral Timah  Indonesia termasuk golongan  mineral  logam  yang  diekspor  ke  berbagai negara. Sebagai salah satu komoditi ekspor unggulan di Indonesia, proporsi timah sekitar 11 persen pada tahun 2010 jika ditinjau dari pendapatan ekspor mineral logam.

Merujuk data International Tin Research Institute (ITRI), Indonesia tercatat sebagai salah  satu  negara  pemasok  timah  di  pasar  internasional dengan  pangsa  pasar  40  dari  total  produksi  dunia.  Jika  ditinjau  dari  cadangan timah dunia, Indonesia menempati urutan keempat setelah China, Bolivia dan Peru. Sedangkan  jika  ditinjau  dari  potensi  ekspor,  Indonesia  menduduki  peringkat kedua terbesar setelah China sebagai penghasil timah.

Potensi timah  Indonesia  tersebar  mulai  dari  Provinsi  Bangka  Belitung  hingga  Provinsi Kepulauan Riau meliputi Pulau Bangka, Pulau Belitung, Pulau Singkep dan Pulau Karimun.  Lebih  dari  90 persen  produksi  timah  di  Indonesia  berasal  dari  Provinsi Bangka Belitung.

Berdasarkan  US  Geological  Survey  2006,  cadangan  terukur  timah  di Indonesia  adalah  sekitar  800.000  sampai  900.000  ton.  Dengan  tingkat  produksi rata-rata  sekitar  60.000  ton/tahun,  atau  setara  dengan  90.000  ton/tahun  pasir timah, cadangan tersebut hanya mampu bertahan sekitar 10 hingga 12 tahun lagi, atau hingga tahun 2017 sampai 2019. Jika diasumsikan harga rata-rata timah USD20.000/mton,  sumber  daya  timah  ini  menyimpan  potensi  ekonomi  dengan  nilai sekitar US$ 18 miliar atau sekitar Rp 190 triliun. Dengan demikian dapat terlihat bahwa   tambang   timah   memiliki   potensi   besar   sebagai   penyumbang   devisa negara. (ATN)

Tags: Hilirisasi MinerbaHilirisasi NikelHilirisasi TimahNikelSmelter TimahTambang TimahTimah
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.