• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Selain China, Arab Saudi dan UEA Siap Investasi di Kawasan Industri Hijau Kaltara

by Redaksi Asiatoday
October 28, 2022
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Dampak Banjir, Industri di Malaysia Mulai Dibayangi Kerugian Besar

Presiden Jokowi saat melakukan groundbreaking pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia, di Bulungan, Kaltara, Selasa (21/12/2021). Foto: BPMI Setpres

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kawasan industri hijau di Kalimantan Utara (Kaltara) kini menjadi magnet baru bagi investor global.

Pasalnya, selain China, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) telah siap berinvestasi di industri petrokimia di kawasan industri tersebut.

Saat ini, investasi China masih mendominasi di Kawasan industri tersebut jika dibandingkan dengan negara mitra lain.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Sejauh ini, investasi China masih yang terbesar, tapi sekarang Saudi juga minta masuk untuk di petrochemical. Tahap pertama, China sudah berinvestasi sebesar US$11 miliar,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan usai mengikuti Laporan CSR Perusahaan China di Indonesia, di Jakarta, Jumat (28/10/2022).

Menurut Luhut, pada tahap kedua pengembangan, Arab Saudi dan UEA akan masuk untuk ikut mengembangkan potensi energi baru terbarukan (EBT) di kawasan industri hijau tersebut.

“Nanti akan ada produk-produk premium karena sumber energinya dari EBT. Ini semua kerja sama internasional mulai dari China, Korea Selatan, Arab Saudi, Abu Dhabi dan Indonesia sendiri. Kita sekarang masuk menjadi pemain global,” jelasnya.

Kawasan industri dengan kebutuhan investasi sebesar US$132 miliar atau setara dengan Rp1.848 triliun itu juga akan membangun infrastruktur panel surya dan pembangkit hydro dengan daya masing-masing 10 gigawatt (GW).

Sebelumnya, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, komitmen investasi yang dihimpun otoritas penanaman modal pada kawasan industri hijau di Kalimantan Utara (Kaltara) sudah menyentuh angka US$80 miliar atau setara dengan Rp1.219 triliun hingga saat ini.

“Dari total investasinya yang akan masuk yang sudah diinventarisir sekarang sekitar US$80 miliar,” kata Bahlil dalam acara Orasi Ilmiah PT Freeport Indonesia di Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat (7/10/2022) lalu.

Bahlil mengatakan, pemerintah akan memfokuskan pasokan listrik untuk kawasan industri hijau itu berasal dari pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan. Alasannya, pasokan listrik bersih itu akan ikut membuat harga sejumlah produk hasil hilirisasi di kawasan itu menjadi kompetitif di masa mendatang.

Bahlil menerangkan, sejumlah industri yang akan difokuskan pada kawasan hijau itu terdiri atas petrokimia, hilirisasi nikel, hingga bijih besi. Dia menargetkan sebagian besar industri itu dapat efektif berproduksi pada 2024 nanti.

“Listriknya kita pakai dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 12.000 megawatt dari Sungai Kayan,” imbuhnya. (ATN)

Tags: Kawasan Industri Hijau
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.