ASIATODAY.ID, GLASGOW – Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Sri Mulyani Indrawati bertemu secara khusus dengan Jeff Bezos di sela-sela acara KTT Iklim COP26 Glasgow, Skotlandia.
Pertemuan Sri Mulyani dengan Jeff Bezos tersebut berlangsung di ruang sekretariat Indonesia pada gelaran KKT Iklim COP26.
Mewakili Presiden Joko Widodo (Jokowi), Sri Mulyani menjelaskan tengah membahas mengenai arah invetasi di Indonesia di bidang renewable energy dan manufaktur solar.
“Indonesia memiliki berbagai potensi sumber daya energi terbarukan, dan dunia berupaya untuk menurunkan emisi karbon dan efek rumah kaca untuk menghindari bencana perubahan iklim,” tulis Sri Mulyani, dikutip Selasa (2/11/2021).
“Peranan swasta dalam negeri dan global sangat penting dalam keberhasilan upaya tersebut. Indonesia akan terus menyusun kebijakan pembanguan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan rakyat namun dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan dampak perubahan iklim,” sambungnya.
Sebagaimana dilaporkan Daily Mail, Selasa (2/11/2021), Jeff Bezos dan kekasihnya Lauren Sanchez sebelumnya bertemu dengan Pangeran Charles di KTT Iklim COP26 Glasgow untuk mempromosikan penghijauan di Afrika Utara, setelah terbang ke Skotlandia dengan jet pribadi senilai USD65 juta.
Pertemuan tersebut terjadi selama dua hari setelah pendiri Jeff Bezos berada di Turki, merayakan ulang tahun Bill Gates yang ke-66, saat pasangan itu berlibur dengan kapal pesiar super mewah.
Di sisi lain, perusahaan penerbangan antariksa Jeff Bezos, Blue Origin, mengumumkan rencana pembangunan stasiun luar angkasa mandirinya bernama Orbital Reef. Stasiun luar angkasa tersebut ditargetkan mulai beroperasi paruh kedua dekade ini.
Menurut Blue Origin, Orbital Reef akan jadi tempat bagi peneliti, industri, wisatawan antariksa, dan mitra internasional yang berkunjung.
Mengutip The Verge, Selasa (26/10/2021), Blue Origin tengah mengerjakan proyek Orbital Reef melalui kemitraan dengan perusahaan penerbangan luar angkasa Sierra Space, anak usaha Sierra Nevada Corporation.
Proyek paling terkenal Sierra Space adalah Dream Chaser, pesawat antariksa bersayap yang dirancang untuk membawa kargo (dan mungkin orang) ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Dream Chaser dijadwalkan mulai penerbangan pada 2022.
Selain Sierra Space, pembangunan Orbital Reef juga mendapat dukungan dari Boeing, Redwire Space, Genesis Engineering Solutions, dan Arizona State University.
Dengan ukuran yang hampir sebesar ISS, Orbital Reef dirancang bisa menampung 10 orang dengan area terpisah untuk tinggal dan penelitian.
Perusahaan juga mengklaim, stasiun antariksa ini akan menjadi taman bisnis serba guna di luar angkasa. Stasiun ini akan memiliki banyak pelabuhan untuk mengunjungi pesawat ruang angkasa dan modul bersama dengan berbagai fasilitas.
“Orbital Reel akan memiliki arsitektur sistem terbuka yang memungkinkan banyak orang dan pelanggan untuk memakai fasilitas ini. Misalnya badan antariksa, media dan travel pengusaha, investor, dan lain-lain,” katanya.
Tak hanya stasiun antariksa, ke depan Blue Origin juga menyediakan layanan untuk pengguna bagi siapa saja, mulai dari transportasi, penyewaan ruang, bantuan teknologi dan hardware, serta layanan robot.
“Orbital Reef akan menyediakan infrastruktur penting yang diperlukan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan membuka pasar baru di luar angkasa,” kata Blue Origin.
Sayangnya, perusahaan tidak menyebutkan berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan Orbital Reef beserta asal investasinya.
Sebelumnya, NASA dikabarkan akan memberikan insentif bagi perusahaan yang membuat proyek Pengembangan Orbit Bumi Rendah Komersial (CLD). Tujuannya untuk memberikan dana pada perusahaan antariksa memulai pengembangan stasiun antariksa swasta yang bisa dikunjungi NASA suatu hari nanti.
NASA berencana memberikan hingga USD 400 juta melalui 2-4 Perjanjian Space Act untuk mendanai studi awal stasiun antariksa ini. (ATN)
