• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Subsidi Energi dan Pupuk di Indonesia Hanya Dinikmati Warga Kelas Atas

by Redaksi Asiatoday
June 22, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pacu Ekspor, Kementan Siapkan Lima Terobosan

Petani Indonesia. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Implementasi program subsidi energi dan pupuk oleh pemerintah Indonesia mendapat sorotan dari World Bank. Pasalnya, program itu dinilai tidak maksimal dan salah sasaran.

Menurut Ekonom Senior World Bank untuk Indonesia Ralph Van Door, subsidi energi di Indonesia banyak dinikmati oleh kalangan masyarakat menengah ke atas, justru masyarakat kelas bawah atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak tersentuh program itu.

Ralph menguraikan, tiga jenis subsidi energi tersebut diantaranya diesel (solar), LPG, kerosin dan listrik (450-900 VA).

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

“Pihak yang menikmati subsidi diesel, LPG dan listrik sebagian besar dari kelas menengah ke atas. Pemerintah Indonesia seharusnya mengubah 30 persen dari total subsidi menjasi cash transfer (bantuan tunai langsung/BLT) kepada 40 persen kelompok terbawah,” jelas Ralph saat Media Briefing Online: Public Expenditure Review World Bank, Senin (22/6/2020).

Hasil riset World Bank, masyarakat miskin dan rentan yang menerima subsidi kerosin (minyak tanah) dan LPG hanya 21 persen. Sementara itu, subsidi solar yang tepat sasaran hanya dinikmati sekitar 3 persen dan subsidi listrik 15 persen.

Selain ketimpangan di sektor energi, Ralph juga mengungkapkan subsidi pupuk oleh pemerintah justru tidak berdampak pada kesejahteraan petani. Sebab, 30 persen dari total subsidi pupuk justru bocor ke pihak yang bukan target penerima subsidi, misalnya perkebunan kelapa sawit.

“Dari subsidi yang disediakan pemerintah, 40 persen dinikmati oleh petani yang sejahtera,” jelasnya.

Menurut Ralph, dibandingkan memberi pupuk secara langsung, pemerintah sebaiknya mengubah bentuk subsidi kepada petani. Salah satu solusinya, yaitu dengan memberikan akses bagi petani untuk mempelajari teknologi pertanian untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Hal tersebut dapat memberikan dampak langsung bagi petani yang ingin mengembangkan usahanya dan lebih tepat sasaran ketimbang memberikan subsidi pupuk.

“Reformasi dalam pemberian subsidi dapat menurunkan tingkat kemiskinan, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan,” tandasnya. (ATN)

Tags: NelayanPetani SawahSubsidi IndonesiaWorld Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.