• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Suhu Panas Ekstrem di Kanada, Puluhan Orang Tewas

by Redaksi Asiatoday
June 30, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 1 min read
A A
0
Suhu Panas Ekstrem di Kanada, Puluhan Orang Tewas

Cuaca panas di Ottawa, Kanada. Dok

ASIATODAY.ID, OTTAWA – Suhu panas ekstrem memicu kematian puluhan orang di Kanada.

Kepolisian British Columbia mengaku telah merespons lebih dari 60 kematian mendadak sejak Senin kemarin, banyak di antaranya adalah orang lanjut usia.

Polisi mengatakan, gelombang panas di kawasan berkontribusi terhadap puluhan kematian tersebut.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Temperatur udara di Lytton, British Columbia, sempat mencapai 47,9 derajat Celcius pada Senin kemarin, naik dari 46,6 pada satu hari sebelumnya. Sebelum gelombang panas ini menerjang, suhu udara di Kanada tidak pernah melewati 45 derajat Celcius.

“Tolong cek anggota keluarga, tetangga, atau orang lanjut usia yang Anda kenal,” kata Mike Kalanj dari Kepolisian Berkuda Kanada di Burnaby, Vancouver.

“Cuaca ini berbahaya bagi sebagian masyarakat kita, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan. Merupakan hal penting bagi kita semua untuk saling memeriksa dan membantu di tengah cuaca ekstrem ini,” jelasnya sebagaimana dilaporkan BBC pada Rabu (30/6/2021).

Di Burnaby, polisi telah merespons 25 kasus “kematian mendadak,” banyak di antara mereka adalah pensiunan.

Paramedis di British Columbia juga telah merespons 107 panggilan terkait kelelahan dan 32 mengenai serangan udara panas pada hari Minggu kemarin.

Meghan Fandrich, seorang warga di desa Lytton, mengatakan kepada media Globe & Mail bahwa pergi ke luar rumah merupakan sesuatu yang “hampir mustahil” dilakukan di tengah gelombang panas.

“Situasinya tidak dapat ditoleransi lagi,” ungkap dia, yang mengirim anak perempuannya untuk tinggal sementara di rumah saudara yang temperatur udaranya lebih dingin dari Lytton.

“Kami sebisa mungkin berada di dalam rumah. Kami sebenarnya terbiasa dengan panas, tapi 30 (derajat Celcius) tentu sangat berbeda dengan 47,” sambung Fandrich. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate EmergencyGlobal WarmingPemanasan Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.