• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Target ASEAN untuk Tingkatkan Otonomi Moneter Cerminkan Tren Dedolarisasi

by Redaksi Asiatoday
April 6, 2023
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Target ASEAN untuk Tingkatkan Otonomi Moneter Cerminkan Tren Dedolarisasi

Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta. Dok Xinhua

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Rencana Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nations/ASEAN) untuk meningkatkan otonomi moneternya guna mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing dan sistem pembayaran tertentu mencerminkan proses dedolarisasi yang sedang berlangsung di beberapa wilayah di dunia, ujar seorang ekonom dari Bank Central Asia (BCA).

Dalam pertemuan Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN, yang berakhir pada 31 Maret, negara-negara anggota sepakat untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal di kawasan tersebut dan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang internasional utama di sektor perdagangan dan investasi lintas perbatasan.

Dalam sesi wawancara belum lama ini, David E. Sumual, kepala ekonom BCA, yang merupakan bank swasta terbesar di Indonesia, mengatakan kepada Xinhua bahwa sistem moneter global saat ini tidak mencerminkan pasar yang dinamis.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

“Hubungan perdagangan dan investasi telah mengalami perubahan yang mendasar, namun arsitektur moneter global masih sama,” ujar David, seraya menambahkan bahwa proses dedolarisasi telah dimulai tidak hanya di Asia Tenggara, tetapi juga di Amerika Latin dan Timur Tengah.

David menuturkan bahwa meningkatnya penggunaan mata uang lokal di kawasan itu berarti mengurangi permintaan untuk dolar AS dan mata uang utama lainnya. Hal itu tidak hanya akan mendorong perdagangan dan investasi lintas perbatasan, tetapi juga meredam guncangan eksternal terhadap perekonomian regional.

Dia menambahkan bahwa perubahan mendadak dalam kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan bank-bank sentral lainnya selalu menyebabkan volatilitas di kawasan tersebut, sehingga negara-negara ASEAN berharap dapat meningkatkan penggunaan mata uang lokal untuk mendorong stabilitas ekonomi dan mengurangi efek limpahan (spillover) seperti inflasi yang tinggi.

Menurut media setempat, pada pertengahan Maret, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mendesak pemerintah negara-negara regional untuk mengurangi ketergantungan terhadap jaringan pembayaran asing dan mulai menggunakan kartu kredit yang diterbitkan oleh bank-bank domestik untuk melindungi setiap transaksi dari potensi dampak negatif dalam hal geopolitik.

Sejak negara-negara Barat memblokir sistem perbankan SWIFT untuk Rusia, banyak wisatawan Rusia tidak dapat menyelesaikan transaksi di Indonesia.

“Itulah mengapa Indonesia ingin mengembangkan jaringan pembayaran domestik,” tutur David.

Mengenai beragam kesulitan yang dihadapi ASEAN untuk menjalankan rencana tersebut, David mengatakan bahwa salah satu di antaranya adalah menyelaraskan sistem pembayaran yang sudah ada di negara-negara anggota serta membangun standar dan regulasi.

“Jika kita ingin mewujudkan kerja sama pembayaran lintas perbatasan yang mencakup lebih banyak negara di kawasan tersebut, inilah pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan saat ini,” imbuh David. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: AseanDedolarisasiSWIFT
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.