• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, July 16, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Trend “Gelombang Asia”, Saatnya Talenta Musik Indonesia Go Internasional

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Trend “Gelombang Asia”, Saatnya Talenta Musik Indonesia Go Internasional

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Talenta Indonesia khususnya di industri musik harus mampu memanfaatkan “Gelombang Asia” dimana saat ini cukup banyak talenta dari Asia yang mendapat sambutan di dunia. Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengungkapkan hal di forum Seminar Ekonomi Kreatif, di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Pemikiran ini disampaikan Triawan setelah pekan sebelumnya penyanyi rap asal Indonesia yang sukses berkarier di Amerika Serikat, Rich Brian bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Karena itu Triawan berharap agar para talenta dapat mendulang kesuksesan yang sama di kancah internasional.

“Saat ini ada semacam gelombang Asia. Kita harus memanfaatkan gelombang Asia itu yang sedang mendapat sambutan di luar negeri,” ujarnya.

RelatedPosts

Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism

Indonesia Enters Aircraft Carrier Era

Japan Ramps Up Ukraine’s Industrial Recovery with UNIDO Technology Partnership

Triawan mencontohkan, kini sejumlah boyband dan girlband asal Korea Selatan mendapat sambutan di panggung internasional, bahkan di Amerika Serikat, negara yang terkenal dengan industri musik besarnya dari berbagai genre.

Menurut Triawan, ekonomi kreatif dikenal sebagai kekuatan “soft power”. Menurut dia, kemajuan negara tidak lagi terfokus pada kekuatan politik dan militer yang dikenal sebagai “hard power”, tetapi pada kekayaan intelektual manusia, warisan budaya dan perekonomian yang bersumber dari kreativitas.

Oleh karena itu, Pemerintah harus benar-benar serius mendukung ekosistem bertumbuhnya ekonomi kreatif sebagai soft power tersebut sebagai modal untuk memperkuat perekonomian nasional.

Kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB pada 2018 tercatat mencapai Rp1.102 triliun dan pada tahun ini ditargetkan bisa meningkat hingga Rp1.200 triliun.

Berdasarkan ekspor ekonomi kreatif dengan nilai 20 miliar dolar AS, subsektor penyumbang pertama adalah fesyen (54,54 persen), kriya (39,01 persen), dan kuliner (6,31 persen).

Ada pun subsektor ekonomi kreatif yang berada di bawah kebijakan Bekraf, yakni bidang aplikasi dan gim developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, animasi dan video, fotografi, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta tv dan radio. (AT)

Tags: Badan Ekonomi KreatifBekrafEkonomi KreatifGelombang AsiaMusik IndonesiaTalenta IndonesiaTalenta MusikTriawan Munaf
No Result
View All Result

Terbaru

  • Jakarta Museums Become SDGs Learning Hubs
  • Indonesia’s FFW 2026 Revives the Power of Film Criticism
  • Why North Bali Is Becoming the Favorite Destination for International Travelers
  • Danantara Powers Indonesia’s New Industrial Era
  • ITB-Vietnam CT Group Forge ASEAN Tech Alliance
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.