• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, July 15, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Uni Eropa dan China Sepakati Perlindungan Pangan Ekspor

by Redaksi Asiatoday
September 14, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Uni Eropa dan China Sepakati Perlindungan Pangan Ekspor

China dan Uni Eropa (UE). Ist

ASIATODAY.ID, BRUSSELS – Uni Eropa dan China menandatangani sebuah kesepakatan terkait perlindungan bagi produk pangan ekspor, Senin (14/9/2020) menjelang diskusi perdagangan, perubahan iklim, dan hak asasi manusia oleh kedua belah pihak.

Perlindungan pangan ekspor itu meliputi produk keju feta hingga pasta cabai Pixian. 

Keduanya akan menghormati daftar 100 makanan-minuman regional Eropa, juga 100 makanan-minuman China. Misalnya, China hanya akan mengizinkan sampanye dari wilayah Prancis sebagai minuman fermentasi anggur.

RelatedPosts

Freeport’s Grasberg Recovery: 21 Tonnes of Gold Target in 2026

Japan’s Takeda Places US$30 Million Bet on Indonesia’s Biopharma Ambition

ASEAN’s Chip Race: Indonesia and Malaysia Forge New Semiconductor Alliance

Kesepakatan ini akan diperluas juga produk cava, minuman anggur dari Spanyol, wiski Irlandia, keju feta Yunani dan ham kering dari Parma Italia, juga pasta cabai Pixian, teh putih Anji, dan beras Panjin dari China.

China adalah pasar ketiga terbesar bagi produk agrikultur Uni Eropa dan produk makanan pada 2019, dengan penjualan sebesar 14,5 miliar euro atau setara Rp257 triliun.

Perjanjian baru ini menjadi keberhasilan dagang bagi Eropa, selagi produsen Amerika Serikat, Australia, atau Selandia Baru tidak akan lagi dapat menggunakan produk dalam daftar tersebut untuk ekspor ke China, meskipun ada periode transisi untuk sejumlah produk keju.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping dan Kanselir Jerman Angela Merkel serta pimpinan eksekutif dan ketua Uni Eropa akan menggelar perbincangan mengenai perpajakan dalam pertemuan yang semestinya telah digelar di Leipzig, Jerman, dengan kehadiran para pemimpin negara Uni Eropa.

Sikap Eropa mengeras terhadap China atas perkara wabah virus corona, yang diyakini berasal dari China, juga soal undang-undang keamanan nasional di Hong Kong yang dikritik karena dianggap merusak hak dasar masyarakatnya.

Di sisi lain, Uni Eropa menyasar komitmen yang lebih kuat dari China mengenai perubahan iklim. Ini mengingat China merupakan penyumbang polusi terbesar dunia.

Kedua belah pihak juga tengah berupaya untuk mengamankan sebuah perjanjian investasi hingga akhir tahun ini, untuk memberikan akses luas bagi negara Eropa pada pasar China serta untuk mencegah Uni Eropa meningkatkan pertahanan perdagangan. (Ant)

Tags: ChinaUni Eropa
No Result
View All Result

Terbaru

  • California Seeks Strategic Partnership with Indonesia
  • Indonesia’s Geothermal Future Put to the Test in NTT
  • FBI Joins Indonesia Corruption Probe as Gold and Millions in Cash Raise Global Scrutiny
  • Energy and Food Price Shocks Put Asia-Pacific on Alert
  • Global Waste-to-Energy Giants Enter Indonesia’s Green Infrastructure Race
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.