• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Walhi : Tumpahan Minyak di Karawang, Pertamina Harus Pulihkan Ekosistem

by Redaksi Asiatoday
July 29, 2019
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meminta PT Pertamina (Persero) agar bertanggung jawab melakukan upaya pemulihan ekosistem laut, pantai, dan mangrove yang terkena dampak tumpahan minyak menyusul kasus kebocoran minyak di sekitar anjungan lepas pantai YY Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java alias PHE ONWJ.

“Tumpahan minyak di perairan laut dan pantai Karawang telah mengancam sumber-sumber kehidupan dan keberlanjutan lingkungan,” terang Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Meiki Paendong dalam keterangan tertulis, Senin (29/7/2019.

Menurut Walhi, Pertamina sebaiknya melakukan audit terhadap prosedur kerja dan peralatan di lokasi lain blok ONWJ, anjungan Echo, Bravo, Mike dan Zulu.

RelatedPosts

Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet

As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes

UNDP Hails Indonesia as Regional Model for Green Growth After High-Level Visit

Berdasarkan data Walhi hingga 18 Juli 2019, pencemaran minyak akibat kelalaian pengeboran produksi minyak sumur itu menyebabkan 45,37 kilometer persegi lautan terdampak. Data luasan tercemar itu diperoleh dari citra satelit ESA sentinel 1 yang bisa diakses oleh publik.

Walhi memprediksi luasan itu bakal terus bertambah karena sumber pencemarannya masih belum teratasi. Pasalnya, angin mendorong pencemaran minyak ke arah barat, hingga ke wilayah pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu.

“Pencemaran ini bila tidak dikendalikan akan mencapai kepulauan seribu, kehidupan nelayan dan pariwisata di kepulauan seribu yang selama ini bergantung dengan kondisi laut akan sangat terganggu,” kata Direktur Eksekutif Walhi DKI Jakarta Tubagus Achmad.

“Sudah ada laporan beberapa menyebutkan tumpahan minyak sudah mencapai bagian timur Kepulauan Seribu,” tambahnya.

Sementara itu, juru kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Eksekutif Nasional, Dwi Sawung menambahkan bahwa pencemaran ini seharusnya bisa dikendalikan dan masyarakat terdampak mestinya mendapatkan pengetahuan dan informasi dari dampak-dampak yang akan terjadi dan selama apa.

“Kami melihat masyarakat yang membantu menangani tumpahan minyak tidak mendapat pengetahuan tentang bahaya dan standar operasi penanganan tumpahan minyak yang sama dengan pegawai Pertamina,” ujar dia.

“Pemerintah harus mengaudit Pertamina karena kecelakaan yang terjadi dalam waktu tidak lama setelah peristiwa Balikpapan tetapi peringatan kepada masyarakat terdampak tidak dilakukan dengan segera,” tegasnya.

Hingga kini, Pertamina terus mengintensifkan penanganan operasi pasca peristiwa oil spill di sekitar anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ dengan memasang lima unit Giant Octopus Skimmer dan membentang 5 x 400 meter Static Oil Boom di sekitar anjungan YY di wilayah Karawang Jawa Barat.

Strategi ini dinilai efektif menanggulangi masalah saat ini. Static Oil Boom mampu menahan penyebaran, sedangkan Giant Octopus Skimmer digunakan untuk mengangkat oil spill yang tertampung di Static Oil Boom tersebut.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman mengatakan bahwa Static Oil Boom ditempatkan di sekitar anjungan YY yang diindikasikan terdapat sumber utama keluarnya minyak mentah sehingga dapat mengisolasi minyak tersebut agar tidak melebar kemana-mana di lautan.

“Pertamina juga menurunkan 5 Giant Octopus Skimmer yang dapat menyedot oil spill dengan kecepatan tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, kemarin.

Alat ini dinilai mampu mengangkat minyak dengan kecepatan sekitar 250 ribu liter per jam. Selanjutnya oil spill dipompa ke kapal-kapal untuk penampungan sementara. Selain penggunaan Static Oil Boom dan Giant Octopus Skimmer, Pertamina juga tetap menyiagakan puluhan kapal yang membentangkan Dynamic Oil Boom secara berlapis, sehingga mengurangi potensi oil spill yang tidak tertangkap dan terbawa arus sampai ke pesisir pantai. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: Biota LautDampak Lingkungan Tumpahan MinyakEkosistemTumpahan MinyakWalhi
No Result
View All Result

Terbaru

  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • Indonesia Seeks Bigger Eurasian Role After Securing Top Partner Status at Russia’s INNOPROM 2026
  • Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals
  • Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.