• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

WEF: 5 Tahun Lagi, 85 Juta Pekerjaan Manusia Diambil Alih Robot

by Redaksi Asiatoday
October 21, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
WEF 2020 Fokus Pada Isu Pertumbuhan, Teknologi dan Perubahan Iklim Global

World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss. Doc

ASIATODAY.ID, ZURICH – Riset Forum Ekonomi Dunia (WEF) menggambarkan peralihan peran yang sangat cepat dari manusia ke teknologi robotic.

Menurut WEF, robot akan mengambil alih 85 juta pekerjaan di bisnis menengah sampai besar pada lima tahun ke depan. Pandemi Covid-19 saat ini kian mempercepat perubahan di tempat kerja yang cenderung melebih-lebihkan ketidaksetaraan.

Survei terhadap hampir 300 perusahaan global menemukan empat dari lima eksekutif bisnis mempercepat rencana melakukan digitalisasi pekerjaan dan menerapkan teknologi baru. Keputusan tersebut membatalkan perolehan pekerjaan yang didapat sejak krisis keuangan 2007-2008.

RelatedPosts

Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway

Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk

China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk

“Covid-19 mempercepat datangnya masa depan pekerjaan,” kata Direktur Manajer WEF Saadia Zahidi.

Bagi pekerja yang ditentukan tetap menjalankan perannya dalam lima tahun ke depan, hampir separuhnya perlu mempelajari keterampilan baru. Menurut riset tersebut, pada 2025, para pengusaha akan membagi tugas untuk manusia dan mesin secara merata.

Secara keseluruhan, penciptaan lapangan kerja melambat dan penghilangan pekerjaan semakin cepat karena perusahaan di seluruh dunia menggunakan teknologi disbanding pekerja untuk tugas memasukkan data, akuntansi, dan administrasi. Kabar baiknya, lebih dari 97 juta pekerjaan akan muncul di seluruh ekonomi perawatan, di industri teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), dan dalam pembuatan konten.

“Tugas-tugas di mana manusia ditetapkan untuk mempertahankan keuntungan komparatif mereka termasuk mengelola, menasehati, membuat keputusan, mempertimbangkan, berkomunikasi serta berinteraksi,” jelasnya.

Permintaan akan meningkat bagi pekerja yang mampu mengisi pekerjaan ekonomi hijau, data mutakhir dan fungsi AI, serta peran baru di bidang teknik, komputasi awan dan pengembangan produk.

Dari survei WEF ditemukan sekitar 43 persen perusahaan ditetapkan akan mengurangi tenaga kerja mereka sebagai dampak integrasi teknologi, 41 persen berencana memperluas penggunaan kontraktor, dan 34 persen membayangkan perluasan tenaga kerja mereka akibat integritas teknologi. (Ant)

Tags: Teknologi Kecerdasan BuatanTransformasi DigitalWorld Economic Forum
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.