• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

WHO Serukan Produksi Massal Dexamethasone

by Redaksi Asiatoday
June 23, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
WHO Serukan Seluruh Negara Perbanyak Tes Corona

WHO Director General Tedros Ghebreyesus. Doc

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan untuk mempercepat produksi dexamethasone, steroid murah yang telah terbukti mengurangi kematian pada pasien Covid-19 yang sakit parah.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan permintaan atas obat jenis steroid itu meningkat setelah uji coba obat itu di Inggris dipublikasikan. Dia yakin produksinya dapat ditingkatkan.

Sekitar 2.000 pasien diberi obat oleh para peneliti yang dipimpin oleh tim dari Oxford Unversity dan dari hasil penelitian, angka kematian bisa ditekan hingga 35 persen di antara pasien yang paling parah, menurut temuan yang diterbitkan pekan lalu.

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

“Meskipun data masih awal, temuan baru-baru ini bahwa steroid dexsamethasone memiliki potensi penyelamatan jiwa bagi pasien Covid-19 yang sakit kritis memberi kami alasan yang sangat dibutuhkan untuk mendukungnya,” ujar Tedros pada konferensi pers virtual di Jenewa melansir CNA, Selasa (23/6/2020).

“Tantangan selanjutnya adalah meningkatkan produksi dan mendistribusikan dexamethasone secara cepat dan merata ke seluruh dunia, dengan fokus pada tempat yang paling dibutuhkan,” ujarnya.

Dexamethasone telah ada di pasaran selama lebih dari 60 tahun dan biasanya berfungsi untuk mengurangi peradangan.

“Tidak ada bukti bahwa obat itu bekerja untuk pasien dengan penyakit ringan atau sebagai tindakan pencegahan, dan itu dapat menyebabkan bahaya,” kata Tedros memperingatkan.

Tedros menegaskan bahwa negara-negara dengan jumlah pasien virus corona yang lebih banyak dan kritis perlu diprioritaskan.

Akan tetapi Tedros memperingatkan bahwa pemasok harus menjamin kualitas, “karena ada risiko tinggi produk di bawah standar atau dipalsukan.” (ATN)

Tags: DexamethasoneWHO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.