ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Pelaku penembakan brutal di sebuah supermarket di Colorado yang menewaskan 10 orang Senin (22/3/2021) telah ditangkap aparat kepolisian Amerika Serikat (AS).
Pelaku diidentifikasi sebagai Ahmad Al Aliwi Alissa, 21 tahun. Ia melepas tembakan di supermarket King Soopers di kota Boulder, dan salah satu korbannya adalah seorang polisi.
Dalam aksinya, Alissa menggunakan pistol jenis AR-15 yang sudah dimodifikasi dan mengenakan rompi anti peluru. Penggeledahan di kediamannya dekat kota Denver menemukan senjata lain.
Ketika gedung itu dikepung polisi, Alissa menyerahkan diri setelah melucuti pakaiannya dan digelandang polisi dengan hanya bercelana kolor dan kaki kanan terluka.
Pihak berwajib meyakini Alissa adalah pelaku tunggal dan akan dibawa ke pengadilan Kamis besok.
Ia tidak menjawab saat ditanya apakah ada pelaku lain, dan mengatakan ingin bicara dengan ibunya.
Menurut data pihak berwenang, Alissa membeli sebuah pistol Ruger AR556 pada 16 Maret.
Ia tinggal di Arvada, kota kecil di antara Boulder dan Denver, dan telah tinggal di Amerika dalam sebagian besar hidupnya, kata Michael Dougherty, jaksa wilayah county Boulder, dikutip dari CNN.
Latar Belakang
Keluarga Alissa adalah imigran asal Suriah yang masuk Amerika pada 2002, menurut keterangan kakaknya, Ali Aliwi Alissa.
Mereka tinggal di kota Arvada sejak 2014. Menurut keterangan kakaknya, yang terpaut 13 tahun dengan tersangka, Ahmad Alissa kerap menjadi korban perundungan saat masih di SMA karena nama dan agamanya, dan hal itu membuatnya anti-sosial.
Kepada stasiun televisi CNN, Ali mengatakan adiknya juga kemungkinan mengalami gangguan mental.
Paranoid
Seorang teman Alissa mengatakan saat di sekolah ia dijauhi teman-temannya.
“Orang-orang memilih tidak mencari masalah dengannya karena perangai dia. Jarang ada yang mau bicara serius dengannya karena sikap dia. Jadi dia memang penyendiri,” kata Damien Cruz, yang mengklaim kenal Alissa sejak kelas lima.
Alissa makin “paranoid” sejak 2014 dan meyakini kalau ia selalu dibuntuti dan dikejar-kejar orang lain, kata kakaknya.
Misalnya, ia menutupi kamera komputer dengan lakban agar tidak ada orang yang bisa memata-matai, kata kakaknya yang tinggal serumah dengan Alissa.
“Ia selalu curiga ada orang di belakangnya, orang yang selalu membuntuti,” kata Ali.
Di akun Facebook Alissa terungkap bahwa ia curiga kalau sekolahnya dulu meretas ponselnya setelah ia lulus.
“Saya ingin tahu apakah ada undang-undang privasi telepon karena saya yakin sekolah saya dulu meretas telepon saya,” tulis Alissa pada 18 Maret 2019.
Pada 5 Juli 2019, ia menulis ada orang lain yang juga meretas teleponnya dan menambahkan: “Biarkan saya menjalani hidup normal.”
Alissa mengikuti pendidikan di SMA Arvada West periode Maret 2015 sampai Mei 2018.
Warga yang kehilangan anggota keluarganya dalam penembakan di supermarket King Sooper, Colorado, AS, mendatangi lokasi kejadian pada 23 Maret 2021. (AFP)
Bukan Fanatik
Menurut kakaknya, Alissa bukan tipe orang yang suka berpolitik, bukan pula orang yang relijius. Sejauh yang diketahuinya, Alissa juga bukan orang yang suka kekerasan.
“Ini semua betul-betul mengejutkan. Saya tidak pernah mengira sama sekali ia akan tega melakukan hal seperti itu. Saya masih belum bica percaya,” kata Ali mengomentari penembakan Senin lalu.
“Saya sedih atas nyawa yang dia rampas dan turut berduka bersama para keluarga itu,” imbuhnya.
Ali mengatakan tidak tahu kenapa Alissa pergi ke King Soopers.
Rumah keluarganya digeledah polisi pada Selasa dini hari. “Mereka menggeledah setiap sudut rumah dan memeriksa setiap helai pakaian,” kata Ali.
Sejauh ini, polisi belum mengungkap dugaan motif serangan di supermarket tersebut.
Pada 2018, Alissa terkena hukuman percobaan satu tahun karena menyerang teman sekolahnya pada November 2017. (CNN)
