• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

China Kian Berulah, TNI Siaga Tempur di Laut Natuna

by Redaksi Asiatoday
January 3, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
China Kian Berulah, TNI Siaga Tempur di Laut Natuna

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Laksdya TNI Yudo Margono memimpin pasukan pengendalian operasi siaga tempur terkait dengan adanya pelanggaran di wilayah perairan Laut Natuna Utara oleh China.

Sebelum bertolak dari Landasan Udara TNI Halim Perdanakusumah, Yudo mengatakan operasi siaga tempur dilaksanakan Koarmada 1 dan Koopsau 1.

Dalam keterangan tertulis Puspen TNI, yang diterima Jumat (03/01/2020), alat utama sistem senjata (Alutsista) yang sudah tergelar yaitu 3 KRI, 1 pesawat intai maritim, dan 1 pesawat Boeing TNI AU. Sedangkan dua KRI masih dalam perjalanan dari Jakarta menuju Natuna hari ini.

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Menurut Yudo, operasi itu bakal digelar untuk melaksanakan pengendalian wilayah laut, khususnya di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Laut Natuna Utara.

Dikatakan, saat ini wilayah Natuna Utara menjadi perhatian bersama, sehingga operasi siaga tempur diarahkan ke Natuna Utara mulai 2020. Operasi tersebut merupakan salah satu dari 18 operasi yang akan dilaksanakan Kogabwilhan I di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Badan Keamanan Laut (Bakamla) sebelumnya mengungkap terkait keberadaan puluhan kapal nelayan China yang masih bebas berlayar di landas kontinen Indonesia di sekitar perairan Natuna, Kepulauan Riau.

Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Pertama Nursyawal Embun, mengatakan, kapal-kapal penangkap ikan tersebut dikawal kapal penjaga pantai dan kapal perang China jenis fregat.

Sejumlah upaya telah dilakukan dengan cara mengusir kapal-kapal China tersebut dari sekitar Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) di Natuna sejak 10 Desember lalu.

Walau sempat menuruti permintaan untuk menjauh, beberapa hari kemudian kapal-kapal China terpantau kembali memasuki dan mengambil ikan di landas kontinen Indonesia di sekitar Natuna.

Atas situasi keamanan di Laut Natuna Utara, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menggelar rapat koordinasi di kantornya. Dalam rakor tersebut hadir pula Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Kepala Staf TNI AL Laksamana Siwi Sukma Adji, dan Kepala BSSN Hinsa Siburian.

Hadir pula Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Luar Negeri Retno L Marsudi, hingga Kabaharkam Polri Komjen Agus Andrianto, hingga Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Usai rapat, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md menegaskan bahwa China telah melalukan pelanggaran batas wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) RI di Laut Natuna. Pemerintah Indonesia-pun akan meningkatkan intensitas patroli di wilayah tersebut.

“Kita rapat membicarakan perkembangan terakhir di Laut China Selatan. Di mana seperti diberitakan ada penyusupan, pelanggaran batas wilayah ke dalam ZEE Indonesia oleh kapal China yang dikawal oleh coast guard-nya,” ujar Mahfud setelah menggelar rapat koordinasi di Kemnonko Polhukam, Jakarta Pusat, Jumat (03/01/2020).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan Indonesia akan mengambil langkah tegas atas klaim China tersebut. Retno menyebutkan pemerintah juga akan meningkatkan intensitas kapal patroli di Laut Natuna.

“Dari rapat tadi juga disepakati beberapa intensifikasi patroli di wilayah tersebut,” kata Retno.

Menurut Retno, kapal-kapal ikan Indonesia akan terus melakukan kegiatan di wilayah tersebut. Retno menegaskan Laut Natuna adalah hak bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Kegiatan perikanan yang memang merupakan hak bagi Indonesia untuk mengembangkannya di Perairan Natuna,” tegas Retno.

Sementara itu, China masih bersikukuh tidak melanggar teritorial negara lain, termasuk Indonesia. China mengklaim wilayah Perairan Natuna yang dilewati kapalnya adalah teritorial China.

“Saya ingin menegaskan bahwa posisi dan dalil-dalil China mematuhi hukum internasional, termasuk UNCLOS. Jadi apakah pihak Indonesia menerima atau tidak, itu tak akan mengubah fakta objektif bahwa China punya hak dan kepentingan di perairan terkait relevant waters)” kata juru bicara Kemlu China, Geng Shuang dalam pernyataan persnya, 2 Januari 2020, dilansir dari situs Kementerian Luar Negeri RRC. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: BakamlaIndonesia vs ChinaMaritim IndonesiaNatunaUNCLOSZEE Natuna Utara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.