ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah studi yang diprakarsai oleh Visa Consumer Payment Attitudes menemukan bahwa masyarakat Indonesia paling banyak mengurangi penggunaan uang tunai selama new normal.
Setidaknya, 6 dari 10 konsumen khawatir akan penyebaran virus Covid-19 sehingga lebih memilih nontunai (cashless). Jumlah ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara (ASEAN).
Studi tahunan tersebut secara spesifik menyoroti pertumbuhan konsumen yang melek digital dan pergeseran cara pembayaran di Asia Tenggara.
“Pembayaran dan perilaku berbelanja konsumen Indonesia berubah signifikan akibat pandemi,” jelas Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Riko Abdurrahman melalui keterangan tertulisnya Rabu (24/2/2021).
Proporsi yang sama atau 63 persen konsumen Indonesia juga mengakui semakin jarang berbelanja dengan uang tunai.
Lebih lanjut, 7 dari 10 (66 persen) menyatakan merasa tak perlu lagi membawa uang tunai yang mengindikasikan pergeseran perilaku konsumen.
Menurut Riko, di tengah pandemi, keamanan pribadi dan higiene pembayaran menjadi prioritas utama yang mendorong banyak konsumen Indonesia beralih ke pembayaran nontunai dan mempertimbangkan pembayaran nirsentuh (contactless).
“Konsumen Indonesia telah merasakan langsung manfaat gaya hidup nontunai, terutama dari segi keamanan, kenyamanan dan efisiensi,” terangnya.
Pembayaran contactless juga diminati banyak orang dan menjadi penyebab penurunan pembayaran tunai, terlepas dari fakta banyaknya konsumen mengurangi intensitas belanja tatap muka.
“Studi Visa menyoroti bagaimana keamanan pribadi dan digital-first commerce akan tetap menjadi tren bahkan setelah pandemi Covid-19 berakhir, di mana masyarakat akan menggunakan lebih sedikit uang tunai dan lebih sering berbelanja online di marketplace,” tambah Riko.
Sementara itu, hampir 6 dari 10 (59 persen) konsumen Indonesia lebih memilih berbelanja di situs perdagangan (marketplace) online, dengan mayoritas transaksi mobile e-commerce terjadi melalui aplikasi, sekitar 12 kali dalam sebulan.
Perilaku berbelanja mereka juga telah bergeser, di mana empat dari 10 konsumen memilih untuk mendukung usaha rumahan atau lokal. Saat berbelanja, layanan pesan antar ke rumah menjadi pilihan utama, di mana 9 dari 10 (88 persen) konsumen Indonesia menggunakan layanan tersebut, dengan 7 dari 10 mengakui lebih sering menggunakan layanan tersebut, rata-rata tujuh kali setiap bulannya.
“Visa berkomitmen mendukung sektor pembayaran yang semakin lancar, aman, dan terjaga di Indonesia, sebagai sebuah fondasi inklusi keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih besar,” imbuhnya. (ATN)
