• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

ESSA Optimis Permintaan Amonia Global Mulai Tumbuh Akibat Keterbatasan Pasokan

Amonia Berpotensi Sebagai Alternatif Energi Rendah Karbon Masa Depan

by Redaksi Asiatoday
March 22, 2021
in GREEN ENERGY
Reading Time: 3 mins read
A A
0
ESSA Optimis Permintaan Amonia Global Mulai Tumbuh Akibat Keterbatasan Pasokan

Pabrik Amonia Grinfield pertama di Dunia milik PT Surya Esa Perkasa Tbk (“ESSA”). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – PT Surya Esa Perkasa Tbk (“ESSA”), emiten yang bergerak di sektor Energi dan Kimia melalui Kilang LPG (liquefied petroleum gas) dan produksi Amonia, optimis terhadap peningkatan permintaan Amonia akibat keterbatasan pasokan global.

ESSA juga melihat potensi kenaikan yang signifikan untuk mengembangkan Amonia Biru pada fasilitas produksi Amonia ESSA sebagai alternatif energi rendah-karbon untuk masa depan.

Amonia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk, plastik, dan bahan kimia di seluruh dunia. Namun demikian, perkiraan permintaan Amonia saat ini belum mempertimbangkan peran Amonia sebagai bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya yang tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan.

RelatedPosts

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

ASEAN Power Grid Gets Real: ADB Unleashes New Fund to Fast-Track Regional Energy Integration

“Meskipun harga Amonia mengalami penurunan secara signifikan akibat dampak Covid-19 yang
mengakibatkan pelambatan di tahun 2020, namun menurut kami pasar Amonia relatif mampu bertahan terhadap pandemi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan kembali harga Amonia secara tajam sejak Januari 2021 yang didorong oleh masalah hambatan pasokan serta karena memasuki masa awal pemulihan permintaan,” kata Presiden Direktur & Chief Executive Officer ESSA, Vinod Laroya melalui keterangan tertulisnya, Senin (22/3/2021).

Anak usaha ESSA yaitu PT Panca Amara Utama (“PAU”), yang terletak di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah ini merupakan pabrik Amonia pertama di dunia yang menggunakan teknologi terbaru dan
paling efisien pemakaian bahan bakarnya bernama KBR Reforming Exchanger System (KRES) dan
Purifier Technology.

Perseroan berupaya memanfaatkan basis operasionalnya yang kokoh untuk
membangun generasi produk berikutnya, khususnya Amonia Biru.

“Pada 18 Maret 2021 lalu, ESSA melalui PAU telah menandatangani MoU tentang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage /CCUS) bersama
dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (“JOGMEC”), Mitsubishi Corporation (“MC”), dan Institut Teknologi Bandung (“ITB”) untuk mengembangkan produksi Amonia rendah karbon atau dikenal sebagai Amonia Biru di Indonesia. Hal ini menegaskan komitmen kami dalam
menciptakan masa depan berkelanjutan sambil memperluas jangkauan pasar Amonia saat ini,” lanjutnya.

Sementara itu, dari sisi kinerja keuangan, berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi audit per 31 Desember 2020, ESSA berhasil membukukan pendapatan sebesar USD 175,5 juta pada tahun 2020, turun sebesar 21 persen dibandingkan pada tahun 2019 sebesar USD 221,9 juta.

ESSA mencatatkan rugi bersih pada tahun 2020 sebesar USD 33,6 juta.
Kendati terjadi pelemahan harga serta penurunan produksi Amonia di tahun 2020 akibat Covid-19 dan masalah terkait lainnya, ESSA berhasil mempertahankan kinerja operasionalnya pada tahun 2020 di tengah kondisi global yang kurang kondusif dengan mencatatkan produksi LPG sebesar 61.448 MT (-17,9% dari 74.871 MT di 2019), produksi Kondensat sebesar 139.961 barel (-15,1% dari 164.948 barel di 2019), dan produksi Amonia sebesar 659.734 MT (-13,9% dari 766.988 MT di 2019).

Semua ini dijalankan sambil tetap mempekerjakan semua pekerjanya serta menyediakan perawatan kesehatan dan standar keselamatan dengan kualitas terbaik.

“Ke depan, ESSA akan terus meningkatkan kinerjanya seiring dengan pemulihan harga dan permintaan di pasar global. Dengan rekam jejak produksi yang kuat, budaya karyawan dan tim manajemen yang telah mampu melalui tahun 2020 yang sulit, kami siap untuk terus menciptakan pertumbuhan di masa mendatang,” tandas Vinod.

Sebagai referensi, PT Surya Esa Perkasa Tbk (“ESSA”) adalah emiten yang bergerak di sektor Energi dan Kimia dengan portofolio usaha di bidang kilang LPG (Liquefied Petroleum Gas) dan produksi Amonia.

Didirikan pada tahun 2006, ESSA tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2012. Melalui anak usahanya, PT Panca Amara Utama (“PAU”), ESSA menjadi salah satu produsen Amonia terbesar di Indonesia yang pertama kali di dunia memanfaatkan teknologi terbaru, yang dinamakan: ‘KBR Reforming Exchanger System and Purifier Technology.’

Sejalan dengan kepedulian yang meningkat pada keberlanjutan global, Amonia Biru mulai muncul sebagai alternatif bahan bakar berkarbon rendah. Pada Maret 2021, ESSA (melalui PAU) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization and Storage/CCUS) untuk Produksi Amonia Biru di Indonesia bekerjasama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (“JOGMEC”), Mitsubishi Corporation (“MC”), dan Institut Teknologi Bandung (“ITB”).

Melalui komitmen Amonia Biru, ESSA membuka jalan bagi Indonesia untuk menjadi yang terdepan dalam menyediakan bahan bakar masa depan. (AT Network)

Tags: AmoniaESSAGreen EnergyGreen IndustriPT Surya Esa Perkasa Tbk
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.