• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Transportasi Jabodetabek Sangat Kompleks, Pemerintah Gandeng Jepang

by Redaksi Asiatoday
August 7, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Transportasi Jabodetabek Sangat Kompleks, Pemerintah Gandeng Jepang 1

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia akan memiliki sistem transportasi urban yang terintegrasi di Jakarta, Bogor, Tanggerang, Depok dan Bekasi. Proyek bertitel “Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) ini menggandeng Jepang. Tahun ini merupakan masa akhir dari JUTPI Fase 2, yang telah dimulai sejak 2014 lalu.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melalui Kedeputian Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menyelenggarakan seminar publik bertema “Jabodetabek Urban Transportation Masterplan”.

Seminar ini membahas hasil aktivitas dari JUTPI Fase 2, termasuk mengenai rincian Jabodetabek Transportation Masterplan (Rencana Induk Transportasi Jabodetabek/RITJ). Studi menunjukkan Pengelolaan transportasi di Jabodetabek tergolong kompleks karena melibatkan banyak pihak dan menyangkut kewenangan beberapa pemerintah daerah. Sementara kemacetan di area ini telah menimbulkan kerugian yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 65 triliun per tahunnya.

RelatedPosts

Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Kehadiran Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) telah menandai babak baru dalam penanganan transportasi perkotaan di wilayah Jabodetabek. Diharapkan dengan adanya Perpres tersebut, maka kebijakan dan langkah-langkah penataan transportasi perkotaan Jabodetabek dapat dilakukan secara terpadu berpedoman pada RITJ.

“Kami ingin menyampaikan informasi mengenai rencana induk transportasi ini kepada masyarakat, media massa, dan stakeholder lainnya, khususnya untuk rencana jangka pendek (2024), menengah (2029) dan panjang (2035),” ungkap Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Wahyu Utomo ketika memberikan sambutan dalam seminar tersebut, di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Dalam mengembangkan masterplan itu, tim JUTPI 2 telah menjalankan berbagai studi yang juga mengakomodasi masukan dari pemerintah pusat dan daerah. Hasil studi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dan/atau memperbaiki rencana pengembangan perkotaan, atau sebagai dasar untuk memperbarui RTRW atau RDTR kota-kota di Indonesia.

“Kami mengharapkan kerja sama dari berbagai instansi terkait untuk mencapai tujuan menciptakan lingkungan perkotaan yang memiliki transportasi publik terintegrasi. Kami juga akan terus mengharapkan kerja sama dengan Jepang, terutama dalam melakukan studi lanjutan dan merancang strategi pengembangan masterplan itu,” katanya.

Selain itu, Wahyu berharap jika masterplan Jabodetabek ini dapat diadaptasi oleh daerah-daerah lainnya juga di Indonesia. “Karena salah satu kunci kemajuan Indonesia juga akan ditentukan oleh meningkatnya kualitas transportasi publik,” tuturnya.

Hasil studi yang dilakukan JUTPI Fase 2, pada 2024 akan ada kebutuhan penumpang atas moda MRT dan LRT sejauh 60 km dan terdiri dari 4 jalur, yaitu Kelapa Gading-Velodrome (6 km); Cawang-Kuningan-Dukuh Atas (10 km); Cawang-Cibubur-Kota Bogor (25 km); dan Cawang-Bekasi Timur (19 km).

Kemudian, pada 2030, kebutuhan terhadap LRT sejauh 116 km dan terdiri dari 7 jalur, yakni Kelapa Gading-Velodrome (6 km); Puri Kembangan-Tanah Abang-Dukuh Atas (12 km); Pesing-Kelapa Gading via Kemayoran (17 km); Cawang-Kuningan-Dukuh Atas (10 km); Cawang-Cibubur-Kota Bogor (44 km); Cawang-Bekasi Timur (19 km); dan Velodrome-JIEP-Cakung (8 km).

Sampai 2035 akan ada kebutuhan sampai 196 km dan terdiri dari 10 jalur, yaitu tambahan 3 jalur dari 2030, yaitu dalam Kota/Kabupaten Bogor sepanjang 40 km; Cikarang (15 km, yang terintegrasi dengan Automated People Mover (APM) dan High Speed Train (HST)); dan Jagakarsa-Cibubur-Cileungsi (25 km).

,’;\;\’\’
Tags: JepangJICALRTMRTTransportasi Publik
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.