ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengaktifkan kembali sumur-sumur tua minyak dan gas (migas) yang sudah lama dianggurkan agar bisa berproduksi.
Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan, langkah ini sebagai salah satu upaya untuk menggenjot produksi migas nasional terutama dalam mengejar target satu juta barel minyak per hari.
“Saat ini kita masih memiliki 13 ribu bekas lobang pengeboran yang sudah ditinggal. Kalau ini di reaktivasi, kita masih bisa berharap ini menghasilkan tambahan produksi minyak dan gas,” terang Arifin melalui keterangan tertulisnya, Kamis (5/3/2020).
Menurut Arifin, jumlah sumur tersebut terbilang banyak sehingga perlu memobilisasi tenaga ahli, peralatan dan sebagainya untuk bisa mengoptimalkan produksi.
“Semua langkah ini demi peningkatan minyak dan gas Indonesia,” imbuhnya.
Selain sumur-sumur tua bekas ekplorasi, Arifin juga mengandalkan penemuan sumur-sumur baru yang sudah dideteksi agar bisa cepat berproduksi. Ia menargetkan sumur-sumur anyar yang diyakini memiliki cadangan bisa berproduksi dalam jangka waktu 10 tahun.
Di sisi lain, ia juga ingin mempertahankan produksi di sumur-sumur yang saat ini masih aktif agar tidak terjadi penurunan (decline). Kemudian melakukan program recovery antara lain dengan steamflood, chemical enhanced oil recovery dan sebagainya.
Menurut Arifin, potensi gas di Indonesia cukup besar dengan kepemilikan atas cadangan terbukti sebesar 97,5 trilliun kaki kubik dan belum sepenuhnya dioptimalkan.
“Gas menjadi salah satu backbone energi kita yang memang bisa kita manfaatkan karena ke depannya kebutuhan gas di dalam negeri akan bertambah dan itu harus kita alokasikan semaksimal mungkin pemanfaatannya,” jelas Arifin.
Kendati begitu, Arifin mengungkapkan jika pengelolaan gas tidak dilakukan secara tepat maka sulit kiranya untuk mewujudkan kemandirian energi mengingat adanya indikasi energi fosil akan habis.
“Kalau dulu minyak kita ekspor, gas kita ekspor. Sekarang ini gas juga mulai terindikasi menurun (produksinya),” ungkapnya.
Dalam hal sumber daya gas ini, Arifin menambahkan, perbandingan cadangan gas Indonesia terhadap cadangan gas dunia kurang dari 2 persen.
“Cadangan gas hanya 1,53 persen dari cadangan dunia. Rusia menjadi yang terbesar,” kata Arifin.
Hal serupa juga terjadi di minyak bumi. Indonesia hanya memiliki 0,2 persen dari cadangan minyak bumi dunia. Cadangan minyak terbesar dimiliki oleh Venezuela.
“Saya meminta ke Pertamina dan SKK Migas, kita punya banyak cadangan yang belum teroptimalkan. Banyak sumur-sumur tua harus kita aktifkan lagi. Masih ada 74 potensi cekungan yang belum dikerjakan,” tegas Arifin. (AT Network)
,’;\;\’\’
