ASIATODAY.ID, BALI – Indonesia berpotensi besar untuk menjadi eksportir hidrogen hijau global. Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah.
Chairman dan Founder Fortescue Future Industries dan Fortescue Metals Group Ltd (FMG) Andrew Forrest mengungkapkan hal itu di B20 Summit di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Minggu (12/11/2022).
“Memanfaatkan surplus energi Indonesia untuk memproduksi hidrogen hijau ke pasar dunia adalah suatu hal penting. Kami masih bertekad untuk melakukan itu. Indonesia masih punya energi yang berlimpah,” jelasnya.
Hidrogen hijau adalah hidrogen yang diproduksi dengan memisahkan air menjadi molekul hidrogen dan oksigen melalui tenaga energi terbarukan seperti energi surya atau angin. Proses pemisahan molekul ini disebut sebagai elektrolisis.
Menurut Forrest, pembuatan hidrogen hijau kini lebih murah dibandingkan 2 tahun lalu.
Jika sebelumnya bianayanya mahal, kini harga elektrolisis beserta sistemnya jauh lebih menurun. Bahkan harga elektrolisis, kini hanya seperlima dari harga sebelumnya.
“Perusahaan kami siap menyematkan elektrolisis, sistem hidrogen hijau pada kelebihan tenaga listrik. Mari kita memberikan harga yang bisa bersaing dengan migas. Mari kita jadikan Indonesia eksportir hidrogen hijau hebat,” imbuhnya.
Menurut Forrest, Indonesia dikaruniai dengan energi terbarukan yang begitu melimpah.
“Anda memiliki energi angin offshore yang luar biasa. Mari kita tangkap peluang itu. Asia, Indonesia. Mari kita hijaukan dunia,” kata Forrest.
Sebagai referensi, Fortescue Future Industries dan Pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian kerja sama di bidang pengembangan industri energi hijau pada September 2020 lalu.
Dilansir dari situs Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, perjanjian ini menyatakan Fortescue diberi hak untuk melakukan studi kelayakan pada proyek-proyek yang bersumber tenaga air dan panas bumi. Harapannya, bisa mendukung akselerasi bauran energi hijau untuk memenuhi kebutuhan pasar global.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) pada Desember 2021, menandatangani perjanjian kerja sama dengan Fortescue. Perusahaan asal Australia ini akan menggelontorkan Rp 180 triliun untuk Kaltara. Ini merupakan bagian dari rencana investasi Fortescue sebesar US$ 10 miliar di Papua dan Kalimantan Timur. (ATN)
Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News
