• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Investasi Rp90 Miliar, Pabrik Farmasi HIV/AIDS Skala Ekspor Hadir di Semarang

by Redaksi Asiatoday
October 21, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Investasi Rp90 Miliar, Pabrik Farmasi HIV/AIDS Skala Ekspor Hadir di Semarang

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat meresmikan pabrik PT Sampharindo Retroviral Indonesia. ist

ASIATODAY.ID, SEMARANG – Investasi sektor farmasi di Provinsi Jawa Tengah terus bergulir.

Kali ini, PT Sampharindo Retroviral Indonesia (SRI), hasil joint venture antara perusahaan farmasi India, Macleods Pharmaceutical dengan perusahaan farmasi lokal PT Sampharindo Perdana resmi membuka Pabrik Farmasi Antiretroviral di Semarang, Jawa Tengah.

Dengan investasi senilai Rp90 miliar, pabrik ini akan menjadi produsen obat untuk pengobatan dan perawatan infeksi oleh retrovirus pertama di Indonesia.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Presiden Direktur PT Sampharindo Perdana M. Syamsul Arifin mengatakan Macleods Pharmaceutical dalam hal ini memiliki porsi kepemilikan 49 persen dan perseroan 51 persen. Alhasil, keseluruhan komponen produksi berasal dari lokal dan diutamakan untuk pasar domestik.

“Kami hanya impor mesin untuk granulasi dari India, dan alat cetak termasuk kemasan dari Korea. Kebutuhan obat ini juga 80 persen untuk pasar lokal, sisanya ekspor ke Mesir, negara-negara di Afrika Utara dan lainnya,” ujar dia melalui keterangan tertulisnya yang diterima Minggu (1/3/2020).

Menurut Syamsul, pabrik farmasi ini lahir dari pengamatan terhadap kasus Orang Dengan HIV AIDS atau ODHA di Indonesia yang tergolong tinggi, mencapai 600.000 jiwa, sedangkan yang baru berhasil diobati 17 persen. Padahal mengacu pada WHO, di satu negara harus minimum 90 persen yang terdeteksi HIV/AIDS mendapat pengobatan.

Syamsul berharap hadirnya pabrik farmasi antiretroviral ini menjadi solusi pasokan obat HIV/AIDS dalam negeri. Dengan kemudahan jangkauan ketersediaan dalam negeri, maka harga yang didapat konsumen nantinya juga akan lebih murah dibanding obat impor lainnya.

“Tahun pertama ini kami maksimalkan kapasitas produksi pada 150 juta obat dan dalam lima tahun pertama kami akan targetkan produksi hingga 500 juta dan selanjutnya meningkatkan investasi kembali untuk perluasan,” terang Syamsul. (ATN)

Tags: HIV/AIDSJawa TengahMacleods PharmaceuticalPT Sampharindo PerdanaPT Sampharindo Retroviral Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.