ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kapan Indonesia akan membangun energi nuklir?
“Saat ini, pengembangan teknologi nuklir untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia masih dalam tahap pengkajian,” kata Profesor Riset sekaligus Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN)-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Djarot Sulistio Wisnubroto.
Hal tersebut disampaikan Djarot dalam forum webinar IATKI Enginering Lecture bertajuk “Bauran Energi Nuklir Menuju Indonesia Net Zero Karbon 2060”, dikutip Minggu (6/3/2022).
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) memberi banyak keuntungan. Selain dapat menghasilkan energi listrik dengan lebih efisien, emisi karbon yang dihasilkan juga lebih sedikit dibandingkan dengan sumber energi fosil.
Saat ini, PLTN telah banyak dimanfaatkan di negara-negara maju dan menjadi andalan energi di negara tersebut.
“PLTN memiliki banyak kelebihan. Masa waktu operasinya lama, lebih dari 80 tahun, selain itu emisi karbonnya sangat rendah, most reliable energy source, penggunaan lahan yang sedikit, relative affordable,” jelas Djarot.
Dikatakan, PLTN memang membutuhkan investasi besar diawal, dan penanganan hasil limbahnya cukup lama, namun kelebihannya jauh lebih banyak seperti lamanya waktu operasi, emisi karbon rendah dan penggunaan area lahan yang lebih sedikit.
Komitmen untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 serius diwujudkan oleh Pemerintah Indonesia. Strategi yang dilakukan yaitu pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), salah satunya energi nuklir.
Menurut Djarot kesiapan Indonesia sendiri untuk memiliki PLTN sudah pernah dievaluasi secara langsung pada misi Badan Atom Internasional IAEA (International Atomic Energi Agency) ke Indonesia pada tahun 2009 untuk infrastruktur tahap pertama, yaitu sebelum pemerintah mengatakan akan membangun PLTN.
“Hasil evaluasi IAEA menunjukkan hampir sebagian sudah terjawab oleh Indonesia,” jelasnya.
Untuk kesediaan Sumber Daya Manusia (SDM), Indonesia sendiri telah menyiapkannya sejak tahun 1990-an.
SDM untuk tenaga kerja paling banyak dibutuhkan saat proses pembangunan PLTN, dan ketika pengoperasian PLTN SDM yang dibutuhkan hanya ratusan saja.
“Keberhasilan kita mengoperasikan tiga reaktor riset di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta bisa menjadi modal pengalaman kita untuk mengoperasikan PLTN, walaupun reaktor riset tidak menghasilkan listrik seperti PLTN,” tambahnya.
Djarot menyimpulkan dari segi SDM dan Infrastruktur, Indonesia sudah siap dalam program pembangunan PLTN, namun tantangan utama ada pada sosial dan politik.
“Nuklir itu tantangannya bukan pada teknologi, SDM, infrastruktur, tetapi tantangannya lebih kepada masalah sosial politik,” ungkapnnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Kelistrikan Indonesia, Arnold Soetrisnanto memandang Indonesia sudah saatnya untuk memanfaatkan energi nuklir.
“Saat ini, kita sudah masuk pada era transisi energi dan kita menyiapkan Indonesia mencapai net zero carbon untuk tahun 2060, tentunya energi nuklir dapat dijadikan pertimbangan,” jelas Arnold.
Menurut Arnold, energi nuklir merupakan energi yang terbarukan dan memiliki masa penggunaan yang lebih lama dibandingkan dengan energi bahan baku fosil.
Energi nuklir tidak berbasis sumber daya alam, tetapi berbasis teknologi dan kemampuan umat manusianya.
“Nuklir itu tidak tergantung pada sumber daya alam tetapi tergantung pada teknologi, seberapa jauh manusia itu mampu memikirkan untuk menciptakan teknologi nuklir, karena bahan bakunya ada di bumi, matahari, dan di tata surya,” paparnya.
Sedangkan mantan anggota DPR RI, Kurtubi menegaskan bahwa Indonesia sudah sangat membutuhkan energi baru dan terbarukan, salah satunya adalah PLTN untuk bisa mendapatkan energi listrik yang murah bagi masyarakat dan PLTN juga terjamin ramah lingkungan.
Menurut Kurtubi, memang selama ini ada kendala dalam mendirikan PLTN di Indonesia.
“Kendalanya jelas ada pada sosio politik, karena sebagian pemangku kepentingan merupakan pebisnis dibidang Sumber Daya Alam (SDA) lain. PLTN Generasi IV cocok untuk dibangun di Indonesia. Jika kita terus takut akan terjadinya kecelakaan PLTN, maka tak akan pernah terwujud adanya PLTN di Indonesia,” tandasnya. (ATN)
