• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Paradoks Neraca Perdagangan Indonesia Defisit USD1,90 Miliar

by Redaksi Asiatoday
August 15, 2019
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Paradoks Neraca Perdagangan Indonesia  Defisit USD1,90 Miliar

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan sepanjang Januari-Juli 2019 neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar USD1,90 miliar. Meski demikian, kinerja neraca perdagangan dengan beberapa negara mengalami surplus.

Surplus tertinggi terjadi dengan Amerika Serikat (AS) yang hingga akhir Juli 2019 sebesar USD5,17 miliar. Meningkat dari posisi akhir Juli 2018 yang sebesar USD4,71 miliar.

Selain dengan AS, kinerja neraca dagang Indonesia juga surplus dengan India dan Belanda. Berbeda dengan AS yang surplusnya meningkat, dengan kedua negara Asia itu justru suprlusnya makin turun.

RelatedPosts

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Indonesia Deepens Legal Alliance With Russia, Approves Extradition of Russian Citizen

Sepanjang Januari-Juli 2019 neraca perdagangan Indonesia dengan India surplus USD4,24 miliar, turun dari periode sama tahun lalu yang sebesar USD4,76 miliar. Lalu dengan Belanda surplus USD1,39 miliar, turun dari surplus di akhir Juli 2019 yang sebesar USD1,52 miliar.

Selain negara tersebut, kinerja neraca dagang Indonesia juga mengalami defisit, yakni Austrilia, Thailand, dan China.

“Defisit terdalam masih dengan China yakni sebesar USD11,05 miliar hingga akhir Juli 2019. Semakin melebar dari periode akhir Juli 2018 yang sebesar USD10,33 miliar,” terang Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Kamis (15/8/2019).

Lalu dengan Thailand tercatat defisit sebesar USD2,2 miliar, membaik dari defisit periode Januari-Juli 2018 yang sebesar USD2,90 miliar. Dengan Australia terjadi defisit sebesar USD1,48 miliar, membaik dari akhir Juli 2018 yang sebesar USD1,60 miliar.

Menurutnya, kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juli 2019 tak lepas dari pengaruh perang dagang antara AS dan China. Juga pengaruh harga komoditas utama Indonesia yakni karet, minyak kelapa sawit (CPO), batu bara cenderung turun.

Kecuk menekankan, meski hingga akhir Juli mengalami defisit sebesar USD1,90 miliar, namun membaik dari posisi akhir Juli 2018 yang defisit sebesar USD3,21 miliar.

“Secara kumulatif memang masih defisit, ini memang menjadi tantangan. Namun melihat dari tahun sebelumnya ini sudah mengalami penurunan,” tandasnya. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: BPSPerang Dagang Amerika-ChinaPerdagangan Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • Australia Triples LPG Exports to Indonesia as Hormuz Disruption Reshapes Energy Flows
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.