• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Tekan Emisi Karbon, Inggris Bangun Stasiun Nuklir

by Redaksi Asiatoday
November 12, 2020
in GREEN ENERGY
Reading Time: 1 min read
A A
0
Indonesia Mulai Gagas Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Untuk menekan emisi karbon, Inggris  berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir mini, Pembangunan tersebut akan menciptakan 6.000 pekerjaan selama lima tahun.

Sebuah konsorsium yang dipimpin oleh raksasa teknik Rolls-Royce ingin membangun 16 pembangkit listrik reaktor modular kecil (SMR) selama dua dekade mendatang.

Pembangunan ini diklaim jauh lebih murah dan lebih aman daripada instalasi tradisional. Konsorsium telah memenangkan dana desain dari pemerintah.

RelatedPosts

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

ASEAN Power Grid Gets Real: ADB Unleashes New Fund to Fast-Track Regional Energy Integration

“Konsorsium SMR Inggris yang dipimpin oleh Rolls-Royce, telah mengumumkan mereka mengharapkan untuk menciptakan 6.000 pekerjaan regional Inggris dalam lima tahun mendatang, jika pemerintah Inggris membuat komitmen yang jelas untuk membangun reaktor,” kata sebuah pernyataan resmi dikutip AFP, Kamis (12/11/2020).

Total pekerjaan bisa mencapai 40 ribu pada 2035.

“Kami telah mengembangkan proses manufaktur dan perakitan yang akan membuat tenaga nuklir rendah karbon yang andal terjangkau, dapat dikirim dan diinvestasikan,” kata Tom Samson, Kepala Eksekutif Sementara Konsorsium SMR Inggris.

Menurut Samson, dengan menciptakan pembangkit listrik buatan pabrik yang keluar dari jalur perakitan, mereka secara radikal mengurangi banyak risiko konstruksi yang terkait dengan pembangkit listrik tenaga nuklir baru.

Konsorsium tersebut terdiri dari perusahaan-perusahaan yang berspesialisasi dalam industri nuklir dan manufaktur.

Konsorsium mengatakan setiap stasiun nuklir kompak akan menyediakan listrik yang cukup untuk menggerakkan 450 ribu rumah selama 60 tahun.

Unit pertama akan beroperasi dalam satu dekade setelah pesanan pertama, dan konsorsium juga berharap bisa menandatangani kontrak di luar negeri.

Pembangkit listrik tenaga nuklir Inggris yang dibangun pada abad terakhir telah ditutup atau akan mendekati akhir masa pakainya.

Tetapi negara itu ingin mempertahankan 20 persen listrik yang dihasilkannya dari tenaga nuklir untuk membantu memenuhi janjinya untuk mengurangi emisi karbon menjadi nol bersih pada 2050 dan mengatasi perubahan iklim. (ATN)

Tags: Climate ChangeEmisi KarbonEnergi NuklirGreen EnergyPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.